Sabtu, 08 April 2017

Penetas Peradaban itu Bernama "Sarang Buku"

Gambar 1. Logo Sarang Buku ciwidey

Selama dengan buku kalian boleh memenjarakanku dimana saja, karena dengan buku, aku bebas.
(Mohammad Hatta 1902-1980)

Banyak dari generasi muda di pedesaan memiliki tubuh-tubuh yang merdeka dengan pemikiran yang nyaris terpenjara. Minimnya ruang-ruang diskusi dan terbatasnya penyediaan buku-buku bahkan pada kawasan pendidikan seperti sekolah menjadi faktor penentu bagi remaja pedesaan untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang kurang terbuka terutama terhadap dunia luar. Keterbatasan ini pada akhirnya memicu rendahnya minat generasi muda usia sekolah terhadap dunia literasi. Membaca dan menulis bukanlah rutinitas yang dilakukan oleh kebanyakan generasi muda pedesaan di luar tugas sekolah, minat terhadap kegiatan literasi seolah menjadi asing. Ironi yang terjadi pada perkembangan generasi muda sebagai iron stock negeri ini yang seharusnya sarat akan rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan dan keterbukaan pemikiran.

Ketika semua informasi mengalami digitalisasi, keberadaan buku justru semakin teralienasi. Lompatan teknologi yang digapai internet mampu membuat siapa pun mengakses semua informasi nyaris tanpa batas. Mewabahnya tren media sosial beberapa tahun ini menegaskan dunia saat ini tak berpagar dengan masyarakat yang saling terhubung satu sama lain, sebuah pesan teks dapat terkirim dari belahan dunia satu ke belahan dunia lainnya dalam hitungan detik dengan biaya yang sangat terjangkau. Media sosial akhirnya menjadi candu yang menyerang segala usia tak terkecuali generasi muda.


Hal tersebut tentu saja tak sepenuhnya merupakan berita baik bagi keberlanjutan peradaban suatu bangsa. Mengutip perkataan Milan Kundera seorang penulis dari Republik Ceko, “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah." 

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 menunjukkan sebesar 85,9 persen masyarakat Indonesia memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3 persen) dan membaca koran (23,5 persen). Hasil ini diperkuat oleh data statistik United Nations Educational, Scientific, and Cultural education (UNESCO) yang dilansir tahun 2012. Data tersebut menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Duri ini semakin tajam ketika melihat Taufiq Ismail menyatakan bahwa rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku (Kemdikbud 2016). Studi yang dilakukan oleh PISA (Programme Internationale for Student Assesment) pada tahun 2012 yang dipublikasikan pada tahun 2014 menyatakan bahwa Indonesia meraih peringkat ke-64 dari 65 negara yang diteliti dalam hal kecakapan sains, matematika, dan membaca yang dilakukan pada remaja usia 15 tahun (PISA 2014). Hal ini menunjukkan ada korelasi yang sangat jelas antara tingkat minat baca masyarakat dengan majunya suatu negara.

Berakar dari keresahan ini kami mencoba memfasilitasi diri untuk membuka ruang diskusi dengan saling berbagi pemikiran di antara kaum muda dengan mendirikan sebuah komunitas bernama "Kawah Sastra Ciwidey (KSC)". Awalnya KSC hanya mengadakan pertemuan-pertemuan via online, memanfaatkan media sosial untuk saling bertukar informasi mengenai buku, kesusasteraan, dan sebagai media pembelajaran untuk menulis baik fiksi maupun non-fiksi. Hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan kopi darat agar kedepannya KSC juga dapat melalukan pertemuan di dunia nyata untuk mewujudkan proses belajar bersama yang lebih optimal.

Kawah Sastra Ciwidey sebagai Penggagas Sarang Buku
Gambar 2. Logo Kawah Sastra Ciwidey

Semenjak resmi didirikan pada tanggal 1 Juni 2014 KSC sudah bercita-cita untuk membangun sebuah perpustakaan untuk melepas dahaga atas minimnya akses terhadap buku-buku di desa kami. Kegiatan literasi tentu saja tidak hanya terbatas pada menikmati pemikiran orang lain dalam buku bacaan tetapi juga menuangkan isi kepala pada sebuah tulisan. Menyadari hal ini kami mulai untuk membuat karya kami sendiri yang nantinya dikoreksi bersama oleh anggota lainnya.

Kami mulai mengumpulkan buku-buku pribadi untuk mulai mendirikan “Sarang Buku” juga membuat rak untuk memajangnya, setidaknya saat itu kami telah memiliki dua buah rak berisi buku. Kami memiliki visi menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya dalam masyarakat, hal ini tentu saja mampu dicapai jika masyarakat memiliki kedekatan dengan buku. Maka “Sarang Buku” tidak hanya menjadi sekadar perpustakaan tetapi bertransformasi menjadi tempat belajar, berkarya, dan mengembangkan bakat.

Melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh KSC dengan mengadakan "Lomba Baca Puisi Menolak Korupsi" pada tahun 2014 yang dihadiri banyak sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia, kami yang bermarkas di “Sarang Buku” mendirikan EPiC (English Plays in Ciwidey) pada tahun 2015. Kami sadar bahwa penguasaan Bahasa Inggris yang lemah di pedesaan juga merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda terhadap kemajuan zaman. Kegiatan belajar bahasa ini pun akhirnya meluas dengan mempelajari Bahasa Korea dan Arab meski intensitasnya tidak sebanyak belajar Bahasa Inggris.


Gambar 3. Anggota Pertama EPiC
Gambar 4. Peresmian EPiC ditandai dengan Awug (Makanan tradisional Sunda)

“Sarang Buku” mulai menarik tidak hanya pembaca yang berkunjung tetapi juga para donator buku dari berbagai kalangan, baik pribadi maupun organisasi. Akhir tahun 2015 merupakan momen yang membahagiakan bagi kami karena “Sarang Buku” mendapatkan kado akhir tahun dari Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) sebanyak 200 judul buku anak-anak. Hal ini mencetuskan ide baru untuk membawa buku langsung ke tengah-tengah masyarakat dengan mengadakan kegiatan bookpacker, yaitu menggelar buku di taman kota setiap hari minggu pagi.
Gambar 5. Penyerahan Kado Akhir Tahun Penerbit BIP
Gambar 6. Kegiatan Bookpacker

Selain kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas, KSC bersama “Sarang Buku” juga sukses mengadakan acara-acara lain yang mendorong generasi muda di desa kami untuk turut aktif dalam berbagai kegiatan positif, yaitu :
-Mengunjungi Rumah Dunia Gol A. Gong untuk belajar cara mengelola perpustakaan dan kegiatan di sekitarnya.
Gambar 7. Mengunjungi Rumah Dunia
-Bedah Novel “Maneken” karya SJ Munkian
Gambar 8. Bedah Novel "Maneken"
-Kompetisi Film Pendek dalam Festival Film Surabaya
Gambar 9. Film Pendek "Skenario Remang-Remang"

-Festival Bahasa 2016
Kami menggelar lomba menulis dan membaca puisi, lomba book review dalam Bahasa Inggris, dan lomba menyanyi.
Gambar 10. Panitia dan Peserta Festival Bahasa 2016

-Lomba Baca Puisi untuk Pelajar SMP di Ciwidey, Pasirjambu, dan Rancabali tahun 2016
Gambar 11. Pemenang  dan Juri Lomba Baca Puisi Tingkat SMP di Ciwidey, Pasirjambu, dan Rancabali

-Pengundian kupon baca setiap bulan bagi pelajar SD-SMA yang membaca di Sarang Buku minimal 30 menit. Peserta akan mendapatkan berbagai macam hadiah berupa buku bacaan dan alat tulis.
Gambar 12. Pemenang Kupon Undian Baca
Gambar 13. Anak-anak Membaca Puisi pada Acara Kupon Undian Baca

Perjuangan yang kami tempuh tentu saja masih panjang, kontribusi kami dalam KSC dan "Sarang Buku" pun masih hanya dapat dirasakan oleh daerah kami, Ciwidey dan sekitarnya di Jawa Barat. Kami berharap kedepannya manfaat yang ditebarkan bisa meluas ke daerah lainnya, juga menjadi ladang tumbuhnya anak muda berjiwa inspirator yang mau melakukan langkah serupa bahkan lebih baik lagi, di wilayah kami maupun di wilayah-wilayah lainnya. Semoga kita semua selaku generasi muda dan masyarakat Indonesia mampu menetaskan peradaban yang lebih baik untuk bangsa kita tercinta kelak.

Blog Kawah Sastra Ciwidey : http://kawahsastra.blogspot.co.id
Facebook Kawah Sastra Ciwidey : Kawah Sastra Ciwidey
Facebook Sarang Buku Ciwidey : Sarang Buku Ciwidey
Instagram Kawah Sastra Ciwidey : Kawah Sastra Ciwidey
Twitter Kawah Sastra Ciwidey : Kawah Sastra Ciwidey

DAFTAR PUSTAKA

Kemdikbud. 2016. http://www.paudni.kemdikbud.go.id/berita/8459.html. Diakses pada tanggal  6 April 2017.

PISA. 2014. PISA 2012 Results in Focus, What 15-Year-olds know and what they can do with what they know. OECD.

Tulisan ini dibuat untuk Lomba Blogger ULF 2017 Pustaka Unsyiah

Rabu, 22 Februari 2017

Maafkan Aku yang-masih-saja Mencintaimu

Maafkan aku yang jatuh cinta kepadamu

Maafkan aku yang terluka tanpa dilukaimu

Maafkan aku yang merindu tanpa tanya kabarmu

Maafkan aku yang memilih peduli padamu


Sudah sejauh manakah kau melangkah?

Sudahkah kau menembus bulan

Sudahkah kau mengitari cincin Saturnus

Sudahkah kau lelah kelilingi luasnya Jupiter


Maafkan aku yang pura-pura tak peduli

Nyatanya sangat peduli

Maafkan aku yang pura-pura tak lagi mencintai

Nyatanya sangat mencintai

Maafkan aku yang tak lelah memandangi

Hingga tak peduli bagaimana kau memandangku


Maafkan aku atas puisi yang membosankan ini

Karena mencintaimu terus kulakukan meski bosan


Maafkan aku atas puisi yang tak puitis ini

Karena cintaku padamu terlalu nyata untuk jadi romantis
This entry was posted in

Selasa, 21 Februari 2017

Menjadi Perempuan

Sumber gambar di sini

Sebenernya udah dari beberapa hari yang lalu pengen nulis tentang ini (nulisnya sih udah kelar tapi terus mengendap jadi draft) tapi karena kesibukan yang melanda (tidur, makan, nonton film) ditambah harus bed rest selama dua hari akhirnya tulisan ini baru bisa published sekarang. Twitter sempat diramaikan oleh #ShePersisted yang ternyata dilatar belakangi oleh seorang penulis dan seniman bernama Courtney Privett yang menghasilkan karya sebuah gambar yang menurut gue inspiring banget dan cukup tepat menggambarkan apa yang selama ini perempuan alami, yaitu selalu mendapatkan penilaian atas apa saja yang ada pada dirinya. Kalian yang mau liat artikel utuhnya bisa digosok di sini.

Gue sendiri sebetulnya tau tentang #ShePersisted bukan dari twitter (karena medsos masih penuuuh sama ribut-ribut politik yang yaaa sudahlah) tapi dari Huffington Post yang link-nya udah ditempelin di atas. Tapi apa yang disampein Privett ini ngena banget sih, meski jaman udah semakin terbuka dan semua orang tampaknya, secara kasat mata, memiliki hak atas pencapaian individunya namun tetap terasa betapa masyarakat kita (nggak cuma di Indonesia lho, di seluruh dunia juga sama hanya dengan kadar yang berbeda-beda) masih memarjinalkan posisi perempuan secara jelas ataupun laten.

Kalo laki-laki berusaha keras mengejar keinginannya maka ia akan disebut gigih, tapi kalo perempuan maka akan disebut ambisius. "Ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tinggi, perempuan di rumah aja!" Bukan sekali-dua-kali kan kita denger kalimat model begitu. Kalo laki-laki jadi pemimpin terus nggak kenal kompromi dia bakal disebut tegas, kalo perempuan bakal disebut arogan. Standar ganda yang berpijak pada bias gender ini diakui atau tidak masih begitu melekat di masyarakat. Dan ini jelas-jelas bukan tentang hegemoni laki-laki kok, banyak perempuan juga mengekspresikan penilaian-penilaian yang menyudutkan sesama perempuan.

“The piece isn’t anti-male at all,” Privett said. “This stuff comes from everybody; our whole society is doing it.” 

Kalo hal yang paling bikin gue sedih sih adalah ketika pertama kali baca istilah full-time mother, yaitu seorang wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Jadi kalo seorang ibu bekerja maka dia disebut part-time mother gitu? Mana ada sih pekerja part-time yang mau ngorbanin nyawa. Emang kita bisa tega gitu ya ngasih gelar-gelar nggak jelas untuk para perempuan yang udah ngorbanin jiwa dan raga demi melahirkan sebuah kehidupan baru, dan bikin dikotomi sembarangan cuma karena seorang ibu memilih bekerja di luar rumah atau nggak.

Gue pernah baca beberapa tulisan tentang keutamaan menjadi full-time mother (mereka bener-bener pake istilah ini, and I didn't get it when the writer was woman) bahwa perempuan harusnya hanya mengurusi keperluan dalam rumah karena mencari nafkah adalah tugas laki-laki. Bahkan tulisan-tulisan itu juga ngasih saran seharusnya perempuan ngerasa cukup aja sih sama pendapatan suaminya karena rejeki udah ada yang ngatur dan biar dikit yang penting berkah. Tulisan kayak gini emang terasa religius sih meski menurut gue ya menyesatkan, karena kalo emang nggak cukup ya nggak cukup aja bukan berarti kufur nikmat. Ketika penghasilan kepala keluarga nggak mencukupi kebutuhan sehari-hari karena anggota keluarga makin banyak (anaknya nambah ya, bukan istrinya yang nambah) maka solusi selain bersyukur ya cari tambahan penghasilan. Di situasi seperti inilah biasanya seorang ibu memilih untuk bekerja (atau sudah bekerja sebelumnya untuk mengantisipasi hal kayak gini).

Mungkin dalam benak masyarakat kita (entah masyarakat yang mana, yang pasti yang judgmental people itu) perempuan yang bekerja itu tipikal ratu-ratu gitu ya, yang abis gajian hilir mudik shopping, nongki-nongki sambil ketawa-ketiwi, padahal menurut gue berapa persen sih perempuan yang memang punya privilege seperti itu, punya gaji dan posisi yang tinggi di perusahaan, bukankah sebagian besar malah terjebak di dalam pabrik-pabrik yang pengap dan sama sekali nggak pernah lagi bersua dengan matahari karena pergi-gelap-pulang-gelap? Belum lagi rumah mesti disapu, anak mesti disuapin, suami mesti dimasak (dibikinin masakan gitu maksudnya), kalo disuruh milih mereka juga pastinya lebih pengen di rumah dengan uang yang cukup. Menurut gue sih gitu.

Daripada tulisan ini meluber kemana-mana dan gue malah keliatan kayak orang lagi ngomel dibanding bikin tulisan, wajarinlah ya kategorinya juga Just A talk yang gue artiin sebagai acara ngomel-ngomel (terjemahan seenak udel, ditimpuk pake Google translate) jadi nulisnya juga nggak pake kerangka-kerangkaan dan tidak mengikuti standar mutu yang ada.Nah di sini gue punya sembilan gambar yang asik buat disimak tentang gimana seharusnya perempuan bersikap kalo jadi pemimpin.



#1 Nentuin Deadline
Menggertak : Senen mesti kelar ya!
Nggak menggertak : Menurut lo kalo senen beres oke?

#2 Ngasih ide
Menggertak : Gue punya ide nih...
Nggak menggertak : Gue sih cuman kepikiran gini...

#3 Ngirim e-mail permintaan
Menggertak : Kirimin gue presentasinya pas udah beres
Nggak menggertak : Hai Joni! Boleh liat nggak presentasinya kalo udah beres? Makasih ya Joni ganteng.

#4 Seseorang nyuri ide lo
Menggertak : Iya, itukan yang tadi gue omongin
Nggak menggertak : Makasih ya udah ngulangin begitu jelas
Gue : Cegat di pengkolan (gaya premannya keluar)

#5 Denger komentar yang seksis
Menggertak : Itu nggak pantes dan gue nggak suka
Nggak menggertak : *Cengar-cengir asem*
Gue : Cegat di pengkolan (lagi)

#6 Ketika lo udah tau tentang suatu hal
Menggertak : Gue sendiri yang ngajarin lo 6 bulan yang lalu
Nggak menggertak : Gue demen deh sama lo, eh bukan! Gue demen deh kalo lo ngejelasin lagi hal itu ke gue

#Ketika lo liat ada kesalahan
Menggertak : Angka-angka ini salah
Nggak menggertak : Duh gue minta maaf nih, ini angka pada bener kagak ya? Gue nggak yakin soalnya, gue kan nggak suka angka. Gue sukanya lo.

#Bekerja sama (bareng laki-laki)
Menggertak : Ngetik normal (yang udah biasa pasti cepet lah ya)
Nggak menggertak : Ngetik pake satu jari

#Ketika lo nggak setuju
Nah klimaks sembilan gambar itu ada di sini ternyata, perempuan sih emang nggak boleh ngeritik, kalo mau ngeritik ya pake kumis aja.

Ya udah deh gitu aja tulisan ini, oh iya sembilan gambar itu didapet di sini. Caption-nya nggak usah diperkarakan ya, jarang-jarang kan dapet terjemahan bahasa Inggris kayak gitu, kalo di Google translate sih mana ada. Sekali lagi seperti tulisan Just A Talk sebelumnya, jika merasa tulisan ini bermanfaat silakan dibagikan namun jika merasa tidak bermanfaat mungkin lo belum dapet hidayah dan perlu di-ruqyah (yang nulis langsung ditimpukin pake duit).










Senin, 13 Februari 2017

Patriot

Dokumentasi Pribadi

Walaupun negara besar,
Kehidupan kami sangat kecil, 
karena kami hanya merasa aman
di gelembung masing-masing.

Identitas Buku

Judul Buku       : Patriot
Penulis Buku    : Maria Audrey Lukito
Editor               : Angelia Samori
Penerbit Buku  : PT Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia)
Tahun Terbit    : 2011
Halaman          : XII+135 halaman

Patriot merupakan sebuah autobiografi yang ditulis oleh seorang gadis berkewarganegaraan Indonesia dan berdarah Tionghoa bernama Maria Audrey Lukito, gadis genius yang telah menorehkan banyak prestasi. Audrey, nama panggilan gadis ini, telah memecahkan rekor MURI pertamanya pada usia 10 tahun, yaitu ketika ia meraih skor 573 untuk ujian TOEFL internasional yang kemudian dipecahkan kembali oleh dirinya sendiri pada usia 14 tahun dengan skor 670.

Audrey juga mampu menghafal kamus bahasa Inggris sebanyak +/- 650 halaman pada usia 11 tahun, dan menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas pada usia 13 tahun. Setelah itu Audrey dibimbing di Mary Baldwin College, Virginia, Amerika Serikat untuk mengikuti Program for the Exceptionally Gifted (Program untuk anak-anak dengan IQ di atas rata-rata sebelum ditransfer untuk melaksanakan undergraduate program di universitas-universitas prestisius di Amerika Serikat). Kemudian Audrey melanjutkan program sarjananya untuk bidang Fisika di The College of William and Mary in Virginia dan mampu menyelesaikannya dalam waktu tiga tahun saja dengan predikat Summa Cum Laude pada usia 16 tahun. Prestasinya tersebut mampu mengatarkan Audrey menjadi anggota Phi Beta Kappa (Masyarakat kehormatan untuk bidang sains).

Selain memaparkan prestasi apa saja yang telah diraih oleh Audrey selama usia akademiknya, buku ini juga menuturkan semangat Audrey yang ingin sekali membaktikan diri dan ilmu yang telah diraihnya untuk tanah airnya sendiri, Indonesia. Tentu saja cita-cita mulia gadis ini tidak serta merta mulus tanpa hambatan tetapi juga penuh rintangan yang justru didapat dari orang-orang di negerinya sendiri hingga menyebabkan Audrey harus jatuh ke dalam depresi yang berat.

Kelebihan Buku

Buku ini mengajarkan kita untuk tanpa lelah belajar meski telah memiliki kelebihan dalam hal daya pikir, Audrey bahkan merasa sedih ketika orang-orang memujinya karena ia mudah sekali dalam mempelajari banyak hal, mengapa mereka hanya memuji kelebihan yang ada pada dirinya tanpa pernah mau tahu bahwa meskipun dengan otak yang genius Audrey tetap belajar siang dan malam untuk meraih apa yang diimpikannya.

Buku ini pun menyajikan esai-esai karya Audrey, termasuk esai yang meloloskannya untuk menerima bimbingan di Mary Baldwin College, juga ringkasan tesis Audrey untuk mendapatkan gelar sarjana di bidang Fisika.

Buku ini cukup tipis sehingga tidak menjenuhkan, gaya bahasanya yang sederhana membuatnya mampu dicerna oleh semua umur.

Kekurangan Buku

Judul kurang menarik meskipun hal ini ditolong dengan desain sampul yang simpel namun pas.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga sehingga pembaca merasa buku itu tidak ditulis oleh Audrey sendiri, meskipun ada beberapa bagian bercetak miring dimana Audrey menggunakan sudut pandang orang ke satu untuk mengungkapkan pemikirannya secara langsung, namun hal ini justru terasa sebagai pengulangan apa yang telah disampaikan sebelumnya.

Gaya bahasa yang digunakan terlalu dramatis dan kurang menyampaikan secara rinci sebenarnya apa yang ingin Audrey lakukan untuk Indonesia, seperti berkarya atau bekerja di bidang apa dan bagaimana, buku ini hanya berkutat dengan 'berbakti dan memajukan Indonesia' tanpa penjelasan secara riil.





Jumat, 03 Februari 2017

Tiket Terakhir

Sumber gambar : Google

Hujan yang semula berupa tetes-tetes kecil kini bertumbuh menjadi jarum-jarum runcing yang panjang dan mulai kerap. Mobil yang kutumpangi hanya melaju perlahan-lahan, usaha mendapatkan penumpang. Sepertinya perlu waktu yang lebih lama karena orang-orang cenderung menunda untuk berpergian ketika hujan.

Kursi sebelahku masih kosong. Setidaknya aku yakin tidak seorang pun yang tahu tetesan hangat yang bergulir dari mataku pun sederas hujan di luar. Aku memalingkan wajah ke jendela di sebelah kananku, tampak sedikit kemacetan diluar namun tidak terlalu parah karena aku telah melewati bagian paling macet di sore hari saat waktu pulang kerja tiba. Beberapa orang tampak berjalan di trotoar dengan payung mereka, ada juga orang-orang yang terpaksa berteduh atau sekedar menikmati semangkuk bakso di pinggir jalan, semuanya tercipta bersama irama hujan.

Mungkin irama hujan membuatku terjerembab dalam suasana melankolis ini. Pada mulanya suasana hatiku biasa-biasa saja, namun tiba-tiba impian-impianku dan segala apa yang dicita-citakan berkelebat dalam benakku cepat sekali, berulang kali. Melihat bagaimana posisi hidupku sekarang aku merasa cepat atau lambat aku harus tersadar bahwa mimpi-mimpi itu hanya akan tenggelam seperti ditelan black hole.

Perlahan-lahan bulir-bulir hangat meluncur dari mataku tanpa bisa ditahan. Aku memalingkan wajahku pada jendela di sebelah kananku. Saat itu aku tahu bahwa aku takut sekali, kegagalan tahun lalu masih kuat menghantui. Memberikan kekhawatiran padaku bahwa kegagalan itu akan terulang lagi tahun ini.

Bara di dalam hatiku tiba-tiba membakar tekad yang ada lalu menjalari seluruh tubuhku dan secara ajaib menciptakan energi yang sangat kuat kurasakan. Aku berjanji, jika yang Maha Pemurah mengabulkan harapanku yang rasa-rasanya adalah tiket terakhir bagiku untuk menggapai hari yang lebih baik, aku takkan menyia-nyiakannya.

Akhir pekan ini aku tak berniat pergi kemana-mana, seluruhnya kugunakan untuk bersantai. Selain itu untuk mengembalikan energi yang digerogoti kelelahan rutinitas pekerjaan dan perjalanan pulang-pergi selama dua jam setiap harinya. Sebenarnya pekerjaanku mudah saja yaitu mencabuti benang dan stiker untuk menandai bagian-bagian pakaian hanya saja super cepat dan membuatku cukup kewalahan. ‘Ajaibnya’ selama delapan jam bekerja tidak satupun kursi disediakan untuk kami para pencabut benang dan stiker ini, alhasil kami harus berdiri selama bekerja.
            
Saat santai seperti ini hal sederhana yang paling kusukai untuk dilakukan adalah membaca buku atau menulis sesuatu entah cerpen atau esai—malah kadang-kadang hanya corat-coret saja, tapi baik sebuah buku ataupun sebuah pulpen dan kertas kosong bagiku sudah cukup untuk mengusir jemu.

Aku memutuskan untuk membaca sebuah buku yang baru saja kubeli kemarin saat pulang bekerja di sebuah toko buku pinggir jalan, buku yang berisi kutipan dari orang-orang terkenal dunia. Membaca kutipan-kutipan mereka dapat menjernihkan pikiran dan memberi semangat. Aku membacanya satu per satu hingga aku menemukan sebuah kutipan dari novelis klasik Amerika bernama Louisa May Alcott, “I am not afraid of storms for I am learning how to sail my ship.”

Quote itu menyentak kesadaranku seketika, ada satu hal yang selama ini hilang dari diriku. Keberanian, ya keberanian. Ketika lulus SMA tahun lalu aku hanya mengikuti Ujian Saringan Masuk salah satu sekolah tinggi ikatan dinas, alasannya sederhana sekolah itu tak memungut biaya malah katanya ada uang saku tiap bulan. Aku tak pernah berani mencoba SNMPTN karena ketiadaan biaya untuk kuliah.

Aku sadar, sebenarnya tidak ada yang mengubur impianku untuk kuliah kecuali ketakutanku sendiri.

       “Ma, tahun ini aku mau kuliah.”

       Ibuku terkejut mendengar perkataanku yang tiba-tiba ketika kubersiap-siap pergi bekerja. Beliau menjawab, “Kuliah mahal. Darimana biayanya?”

      “Aku mau daftar beasiswa, Ma. Doain ya!” ucapku seraya bersepatu. Sebelum mencapai pintu keluar aku mencium punggung tangan ibuku dahulu.
Ibuku tersenyum seraya mengelus kepalaku, “Bolehlah kalau dapat beasiswa penuh, tapi dapat darimana?”

       “Ada beasiswa pemerintah ma, kata teman sih yang sudah lulus SMA satu tahun masih boleh ikut.” Ungkapku,”daftarnya lewat sekolah.”

          "Pasti mama doakan dapat beasiswa, tapi kalau biaya sendiri mama rasa tidak sanggup.”

Aku mengangguk dan tidak menjawab apa-apa. Aku harus segera berangkat kalau tidak bisa terlambat.

Setiap dalam perjalanan dan sepulang bekerja kini aku kembali membuka pelajaran-pelajaran saat SMA, tak jarang aku bahkan belajar hingga tengah malam. Aku pikir hal ini akan sangat menguras tenagaku karena waktu sepulang bekerja yang biasanya digunakan untuk beristirahat sekarang digunakan untuk belajar.

Ternyata dugaanku tidak sepenuhnya benar, mungkin karena semangat yang meletup dan menyebar di dalam diri seperti kembang api membuatku melupakan segala rasa lelah. Jika diibaratkan jalan meraih cita-cita  adalah lautan penuh badai maka aku tidak akan takut untuk membentangkan layar kapalku sendiri, aku yakin di masa depan sana pasti aka nada lautan tenang dan pulau yang diimpikan. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah keadaan diri jika kita hanya diam saja?

Aku dan beberapa orang temanku pernah beberapa kali mengunjungi guru BK kami semasa SMA agar dibantu dalam proses pengajuan beasiswa pemerintah itu, beliau menjamin akan membantu namun setelah anak kelas XII sekarang yang juga mengajukan beasiswa tersebut semuanya telah selesai diurus. Jadi beliau sarankan kepada kami untuk sabar menungggu.

Nyaris dua minggu kemudian kami menemui kembali guru BK kami—karena memang beliaulah yang diberi mandat oleh sekolah untuk mengurus proses pengajuan beasiswa. Setelah rekomendasi dari kepala sekolah turun maka kami siap untuk melakukan registrasi online, sedangkan pemberkasan dilanjutkan setelahnya.

Desa kami minim akses internet, maka untuk melakukan registrasi online pun kami harus menggunakan fasilitas sekolah. Namun ternyata kami menghadapi satu masalah yaitu kami belum memuliki NISN yang wajib ada untuk pengajuan beasiswa ini. Jadilah esok harinya guru kami pergi ke kabupaten untuk mengurusnya.

        “Ini NISN* kalian,” ucap guru kami setelah keesokan harinya beliau mendapatkan NISN kami. “Ayo, kita coba registrasi online-nya!”

Salah satu temanku mencobanya terlebih dahulu, ia mengisi data diri pada borang yang disediakan namun ketika ia klik ‘simpan’ layar tidak menampilkan proses selanjutnya melainkan serangkaian kalimat : Maaf! Batas Terakhir Registrasi Online adalah 3 Juni 2011.
            
Tiba-tiba ada hening yang menyiksa, tak sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, yang tersisa hanyalah rasa lemas. Aku bahkan melihat tubuh guruku melorot di kursi. Hanya satu hari saja kami terlambat melakukan registrasi online.

       “Jadi sekarang kalian mau bagaimana?” pertanyaan guruku menyadarkan kami, tapi tak satupun dari kami yang mampu menjawab pertanyaan itu. “Kalau bapak sarankan lebih baik kalian coba SNMPTN regular saja, pembelian rekening di bank tutup satu jam lagi.”

Kami tak sempat pikir panjang, biarlah urusan biaya dipikir lain kali ketimbang tidak mencoba sama sekali.

           ***
Menginjak universitas ini sebagai mahasiswa semester satu dengan kemeja biru laut dan rok pantalon hitam bagiku sama saja seperti bermimpi, hanya saja menjadi kenyataan. Aku mendapatkan beasiswa dari universitas untuk satu semester sedangkan untuk biaya hidup perlu mengirit dari kiriman orangtua. Mungkin semester selanjutnya aku harus mencari beasiswa lain.

Aku meloncat turun dari Bis Damri Jatinangor-Dipati Ukur karena medapatkan perintah bagi yang menerima beasiswa dari unuversitas untuk datang ke rektorat. Setelah itu aku menuju tempat-tempat sesuai instruksi yang telah diberikan.

       “Dek, kamu diajukan oleh universitas untuk mendapatkan beasiswa pemerintah. Tolong nanti siapkan pemberkasannya ya!” ucap seorang bapak paruh baya yang ramah.

   “Lho kan sudah berakhir pak pengajuannya?” tanyaku heran. Aku sendiri gagal registrasionline waktu itu karena terlambat satu hari.

    “Universitas kita punya kelebihan kuota, jadi mengajukan kembali beberapa orang mahasiswanya,” beliau menerangkan. “Berdoa saja dek, biar lancar dan dapat.”

       “Aamiin, Pak!” ucapku sungguh-sungguh dari dalam hati. Benarlah firman-Nya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Aku tak menyangka, ‘tiket terakhir’ ini membawaku pada perjalanan yang berliku namun manis, lebih manis daripada coklat yang dijual di toko sebelah.
This entry was posted in