Selasa, 21 Februari 2017

Menjadi Perempuan

Sumber gambar di sini

Sebenernya udah dari beberapa hari yang lalu pengen nulis tentang ini (nulisnya sih udah kelar tapi terus mengendap jadi draft) tapi karena kesibukan yang melanda (tidur, makan, nonton film) ditambah harus bed rest selama dua hari akhirnya tulisan ini baru bisa published sekarang. Twitter sempat diramaikan oleh #ShePersisted yang ternyata dilatar belakangi oleh seorang penulis dan seniman bernama Courtney Privett yang menghasilkan karya sebuah gambar yang menurut gue inspiring banget dan cukup tepat menggambarkan apa yang selama ini perempuan alami, yaitu selalu mendapatkan penilaian atas apa saja yang ada pada dirinya. Kalian yang mau liat artikel utuhnya bisa digosok di sini.

Gue sendiri sebetulnya tau tentang #ShePersisted bukan dari twitter (karena medsos masih penuuuh sama ribut-ribut politik yang yaaa sudahlah) tapi dari Huffington Post yang link-nya udah ditempelin di atas. Tapi apa yang disampein Privett ini ngena banget sih, meski jaman udah semakin terbuka dan semua orang tampaknya, secara kasat mata, memiliki hak atas pencapaian individunya namun tetap terasa betapa masyarakat kita (nggak cuma di Indonesia lho, di seluruh dunia juga sama hanya dengan kadar yang berbeda-beda) masih memarjinalkan posisi perempuan secara jelas ataupun laten.

Kalo laki-laki berusaha keras mengejar keinginannya maka ia akan disebut gigih, tapi kalo perempuan maka akan disebut ambisius. "Ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tinggi, perempuan di rumah aja!" Bukan sekali-dua-kali kan kita denger kalimat model begitu. Kalo laki-laki jadi pemimpin terus nggak kenal kompromi dia bakal disebut tegas, kalo perempuan bakal disebut arogan. Standar ganda yang berpijak pada bias gender ini diakui atau tidak masih begitu melekat di masyarakat. Dan ini jelas-jelas bukan tentang hegemoni laki-laki kok, banyak perempuan juga mengekspresikan penilaian-penilaian yang menyudutkan sesama perempuan.

“The piece isn’t anti-male at all,” Privett said. “This stuff comes from everybody; our whole society is doing it.” 

Kalo hal yang paling bikin gue sedih sih adalah ketika pertama kali baca istilah full-time mother, yaitu seorang wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Jadi kalo seorang ibu bekerja maka dia disebut part-time mother gitu? Mana ada sih pekerja part-time yang mau ngorbanin nyawa. Emang kita bisa tega gitu ya ngasih gelar-gelar nggak jelas untuk para perempuan yang udah ngorbanin jiwa dan raga demi melahirkan sebuah kehidupan baru, dan bikin dikotomi sembarangan cuma karena seorang ibu memilih bekerja di luar rumah atau nggak.

Gue pernah baca beberapa tulisan tentang keutamaan menjadi full-time mother (mereka bener-bener pake istilah ini, and I didn't get it when the writer was woman) bahwa perempuan harusnya hanya mengurusi keperluan dalam rumah karena mencari nafkah adalah tugas laki-laki. Bahkan tulisan-tulisan itu juga ngasih saran seharusnya perempuan ngerasa cukup aja sih sama pendapatan suaminya karena rejeki udah ada yang ngatur dan biar dikit yang penting berkah. Tulisan kayak gini emang terasa religius sih meski menurut gue ya menyesatkan, karena kalo emang nggak cukup ya nggak cukup aja bukan berarti kufur nikmat. Ketika penghasilan kepala keluarga nggak mencukupi kebutuhan sehari-hari karena anggota keluarga makin banyak (anaknya nambah ya, bukan istrinya yang nambah) maka solusi selain bersyukur ya cari tambahan penghasilan. Di situasi seperti inilah biasanya seorang ibu memilih untuk bekerja (atau sudah bekerja sebelumnya untuk mengantisipasi hal kayak gini).

Mungkin dalam benak masyarakat kita (entah masyarakat yang mana, yang pasti yang judgmental people itu) perempuan yang bekerja itu tipikal ratu-ratu gitu ya, yang abis gajian hilir mudik shopping, nongki-nongki sambil ketawa-ketiwi, padahal menurut gue berapa persen sih perempuan yang memang punya privilege seperti itu, punya gaji dan posisi yang tinggi di perusahaan, bukankah sebagian besar malah terjebak di dalam pabrik-pabrik yang pengap dan sama sekali nggak pernah lagi bersua dengan matahari karena pergi-gelap-pulang-gelap? Belum lagi rumah mesti disapu, anak mesti disuapin, suami mesti dimasak (dibikinin masakan gitu maksudnya), kalo disuruh milih mereka juga pastinya lebih pengen di rumah dengan uang yang cukup. Menurut gue sih gitu.

Daripada tulisan ini meluber kemana-mana dan gue malah keliatan kayak orang lagi ngomel dibanding bikin tulisan, wajarinlah ya kategorinya juga Just A talk yang gue artiin sebagai acara ngomel-ngomel (terjemahan seenak udel, ditimpuk pake Google translate) jadi nulisnya juga nggak pake kerangka-kerangkaan dan tidak mengikuti standar mutu yang ada.Nah di sini gue punya sembilan gambar yang asik buat disimak tentang gimana seharusnya perempuan bersikap kalo jadi pemimpin.



#1 Nentuin Deadline
Menggertak : Senen mesti kelar ya!
Nggak menggertak : Menurut lo kalo senen beres oke?

#2 Ngasih ide
Menggertak : Gue punya ide nih...
Nggak menggertak : Gue sih cuman kepikiran gini...

#3 Ngirim e-mail permintaan
Menggertak : Kirimin gue presentasinya pas udah beres
Nggak menggertak : Hai Joni! Boleh liat nggak presentasinya kalo udah beres? Makasih ya Joni ganteng.

#4 Seseorang nyuri ide lo
Menggertak : Iya, itukan yang tadi gue omongin
Nggak menggertak : Makasih ya udah ngulangin begitu jelas
Gue : Cegat di pengkolan (gaya premannya keluar)

#5 Denger komentar yang seksis
Menggertak : Itu nggak pantes dan gue nggak suka
Nggak menggertak : *Cengar-cengir asem*
Gue : Cegat di pengkolan (lagi)

#6 Ketika lo udah tau tentang suatu hal
Menggertak : Gue sendiri yang ngajarin lo 6 bulan yang lalu
Nggak menggertak : Gue demen deh sama lo, eh bukan! Gue demen deh kalo lo ngejelasin lagi hal itu ke gue

#Ketika lo liat ada kesalahan
Menggertak : Angka-angka ini salah
Nggak menggertak : Duh gue minta maaf nih, ini angka pada bener kagak ya? Gue nggak yakin soalnya, gue kan nggak suka angka. Gue sukanya lo.

#Bekerja sama (bareng laki-laki)
Menggertak : Ngetik normal (yang udah biasa pasti cepet lah ya)
Nggak menggertak : Ngetik pake satu jari

#Ketika lo nggak setuju
Nah klimaks sembilan gambar itu ada di sini ternyata, perempuan sih emang nggak boleh ngeritik, kalo mau ngeritik ya pake kumis aja.

Ya udah deh gitu aja tulisan ini, oh iya sembilan gambar itu didapet di sini. Caption-nya nggak usah diperkarakan ya, jarang-jarang kan dapet terjemahan bahasa Inggris kayak gitu, kalo di Google translate sih mana ada. Sekali lagi seperti tulisan Just A Talk sebelumnya, jika merasa tulisan ini bermanfaat silakan dibagikan namun jika merasa tidak bermanfaat mungkin lo belum dapet hidayah dan perlu di-ruqyah (yang nulis langsung ditimpukin pake duit).










0 komentar:

Posting Komentar

Silakan bernapas dengan kata-kata di sini.