Jumat, 03 Februari 2017

Tiket Terakhir

Sumber gambar : Google

Hujan yang semula berupa tetes-tetes kecil kini bertumbuh menjadi jarum-jarum runcing yang panjang dan mulai kerap. Mobil yang kutumpangi hanya melaju perlahan-lahan, usaha mendapatkan penumpang. Sepertinya perlu waktu yang lebih lama karena orang-orang cenderung menunda untuk berpergian ketika hujan.

Kursi sebelahku masih kosong. Setidaknya aku yakin tidak seorang pun yang tahu tetesan hangat yang bergulir dari mataku pun sederas hujan di luar. Aku memalingkan wajah ke jendela di sebelah kananku, tampak sedikit kemacetan diluar namun tidak terlalu parah karena aku telah melewati bagian paling macet di sore hari saat waktu pulang kerja tiba. Beberapa orang tampak berjalan di trotoar dengan payung mereka, ada juga orang-orang yang terpaksa berteduh atau sekedar menikmati semangkuk bakso di pinggir jalan, semuanya tercipta bersama irama hujan.

Mungkin irama hujan membuatku terjerembab dalam suasana melankolis ini. Pada mulanya suasana hatiku biasa-biasa saja, namun tiba-tiba impian-impianku dan segala apa yang dicita-citakan berkelebat dalam benakku cepat sekali, berulang kali. Melihat bagaimana posisi hidupku sekarang aku merasa cepat atau lambat aku harus tersadar bahwa mimpi-mimpi itu hanya akan tenggelam seperti ditelan black hole.

Perlahan-lahan bulir-bulir hangat meluncur dari mataku tanpa bisa ditahan. Aku memalingkan wajahku pada jendela di sebelah kananku. Saat itu aku tahu bahwa aku takut sekali, kegagalan tahun lalu masih kuat menghantui. Memberikan kekhawatiran padaku bahwa kegagalan itu akan terulang lagi tahun ini.

Bara di dalam hatiku tiba-tiba membakar tekad yang ada lalu menjalari seluruh tubuhku dan secara ajaib menciptakan energi yang sangat kuat kurasakan. Aku berjanji, jika yang Maha Pemurah mengabulkan harapanku yang rasa-rasanya adalah tiket terakhir bagiku untuk menggapai hari yang lebih baik, aku takkan menyia-nyiakannya.

Akhir pekan ini aku tak berniat pergi kemana-mana, seluruhnya kugunakan untuk bersantai. Selain itu untuk mengembalikan energi yang digerogoti kelelahan rutinitas pekerjaan dan perjalanan pulang-pergi selama dua jam setiap harinya. Sebenarnya pekerjaanku mudah saja yaitu mencabuti benang dan stiker untuk menandai bagian-bagian pakaian hanya saja super cepat dan membuatku cukup kewalahan. ‘Ajaibnya’ selama delapan jam bekerja tidak satupun kursi disediakan untuk kami para pencabut benang dan stiker ini, alhasil kami harus berdiri selama bekerja.
            
Saat santai seperti ini hal sederhana yang paling kusukai untuk dilakukan adalah membaca buku atau menulis sesuatu entah cerpen atau esai—malah kadang-kadang hanya corat-coret saja, tapi baik sebuah buku ataupun sebuah pulpen dan kertas kosong bagiku sudah cukup untuk mengusir jemu.

Aku memutuskan untuk membaca sebuah buku yang baru saja kubeli kemarin saat pulang bekerja di sebuah toko buku pinggir jalan, buku yang berisi kutipan dari orang-orang terkenal dunia. Membaca kutipan-kutipan mereka dapat menjernihkan pikiran dan memberi semangat. Aku membacanya satu per satu hingga aku menemukan sebuah kutipan dari novelis klasik Amerika bernama Louisa May Alcott, “I am not afraid of storms for I am learning how to sail my ship.”

Quote itu menyentak kesadaranku seketika, ada satu hal yang selama ini hilang dari diriku. Keberanian, ya keberanian. Ketika lulus SMA tahun lalu aku hanya mengikuti Ujian Saringan Masuk salah satu sekolah tinggi ikatan dinas, alasannya sederhana sekolah itu tak memungut biaya malah katanya ada uang saku tiap bulan. Aku tak pernah berani mencoba SNMPTN karena ketiadaan biaya untuk kuliah.

Aku sadar, sebenarnya tidak ada yang mengubur impianku untuk kuliah kecuali ketakutanku sendiri.

       “Ma, tahun ini aku mau kuliah.”

       Ibuku terkejut mendengar perkataanku yang tiba-tiba ketika kubersiap-siap pergi bekerja. Beliau menjawab, “Kuliah mahal. Darimana biayanya?”

      “Aku mau daftar beasiswa, Ma. Doain ya!” ucapku seraya bersepatu. Sebelum mencapai pintu keluar aku mencium punggung tangan ibuku dahulu.
Ibuku tersenyum seraya mengelus kepalaku, “Bolehlah kalau dapat beasiswa penuh, tapi dapat darimana?”

       “Ada beasiswa pemerintah ma, kata teman sih yang sudah lulus SMA satu tahun masih boleh ikut.” Ungkapku,”daftarnya lewat sekolah.”

          "Pasti mama doakan dapat beasiswa, tapi kalau biaya sendiri mama rasa tidak sanggup.”

Aku mengangguk dan tidak menjawab apa-apa. Aku harus segera berangkat kalau tidak bisa terlambat.

Setiap dalam perjalanan dan sepulang bekerja kini aku kembali membuka pelajaran-pelajaran saat SMA, tak jarang aku bahkan belajar hingga tengah malam. Aku pikir hal ini akan sangat menguras tenagaku karena waktu sepulang bekerja yang biasanya digunakan untuk beristirahat sekarang digunakan untuk belajar.

Ternyata dugaanku tidak sepenuhnya benar, mungkin karena semangat yang meletup dan menyebar di dalam diri seperti kembang api membuatku melupakan segala rasa lelah. Jika diibaratkan jalan meraih cita-cita  adalah lautan penuh badai maka aku tidak akan takut untuk membentangkan layar kapalku sendiri, aku yakin di masa depan sana pasti aka nada lautan tenang dan pulau yang diimpikan. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah keadaan diri jika kita hanya diam saja?

Aku dan beberapa orang temanku pernah beberapa kali mengunjungi guru BK kami semasa SMA agar dibantu dalam proses pengajuan beasiswa pemerintah itu, beliau menjamin akan membantu namun setelah anak kelas XII sekarang yang juga mengajukan beasiswa tersebut semuanya telah selesai diurus. Jadi beliau sarankan kepada kami untuk sabar menungggu.

Nyaris dua minggu kemudian kami menemui kembali guru BK kami—karena memang beliaulah yang diberi mandat oleh sekolah untuk mengurus proses pengajuan beasiswa. Setelah rekomendasi dari kepala sekolah turun maka kami siap untuk melakukan registrasi online, sedangkan pemberkasan dilanjutkan setelahnya.

Desa kami minim akses internet, maka untuk melakukan registrasi online pun kami harus menggunakan fasilitas sekolah. Namun ternyata kami menghadapi satu masalah yaitu kami belum memuliki NISN yang wajib ada untuk pengajuan beasiswa ini. Jadilah esok harinya guru kami pergi ke kabupaten untuk mengurusnya.

        “Ini NISN* kalian,” ucap guru kami setelah keesokan harinya beliau mendapatkan NISN kami. “Ayo, kita coba registrasi online-nya!”

Salah satu temanku mencobanya terlebih dahulu, ia mengisi data diri pada borang yang disediakan namun ketika ia klik ‘simpan’ layar tidak menampilkan proses selanjutnya melainkan serangkaian kalimat : Maaf! Batas Terakhir Registrasi Online adalah 3 Juni 2011.
            
Tiba-tiba ada hening yang menyiksa, tak sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, yang tersisa hanyalah rasa lemas. Aku bahkan melihat tubuh guruku melorot di kursi. Hanya satu hari saja kami terlambat melakukan registrasi online.

       “Jadi sekarang kalian mau bagaimana?” pertanyaan guruku menyadarkan kami, tapi tak satupun dari kami yang mampu menjawab pertanyaan itu. “Kalau bapak sarankan lebih baik kalian coba SNMPTN regular saja, pembelian rekening di bank tutup satu jam lagi.”

Kami tak sempat pikir panjang, biarlah urusan biaya dipikir lain kali ketimbang tidak mencoba sama sekali.

           ***
Menginjak universitas ini sebagai mahasiswa semester satu dengan kemeja biru laut dan rok pantalon hitam bagiku sama saja seperti bermimpi, hanya saja menjadi kenyataan. Aku mendapatkan beasiswa dari universitas untuk satu semester sedangkan untuk biaya hidup perlu mengirit dari kiriman orangtua. Mungkin semester selanjutnya aku harus mencari beasiswa lain.

Aku meloncat turun dari Bis Damri Jatinangor-Dipati Ukur karena medapatkan perintah bagi yang menerima beasiswa dari unuversitas untuk datang ke rektorat. Setelah itu aku menuju tempat-tempat sesuai instruksi yang telah diberikan.

       “Dek, kamu diajukan oleh universitas untuk mendapatkan beasiswa pemerintah. Tolong nanti siapkan pemberkasannya ya!” ucap seorang bapak paruh baya yang ramah.

   “Lho kan sudah berakhir pak pengajuannya?” tanyaku heran. Aku sendiri gagal registrasionline waktu itu karena terlambat satu hari.

    “Universitas kita punya kelebihan kuota, jadi mengajukan kembali beberapa orang mahasiswanya,” beliau menerangkan. “Berdoa saja dek, biar lancar dan dapat.”

       “Aamiin, Pak!” ucapku sungguh-sungguh dari dalam hati. Benarlah firman-Nya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Aku tak menyangka, ‘tiket terakhir’ ini membawaku pada perjalanan yang berliku namun manis, lebih manis daripada coklat yang dijual di toko sebelah.
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan bernapas dengan kata-kata di sini.