Rabu, 22 Februari 2017

Maafkan Aku yang-masih-saja Mencintaimu

Maafkan aku yang jatuh cinta kepadamu

Maafkan aku yang terluka tanpa dilukaimu

Maafkan aku yang merindu tanpa tanya kabarmu

Maafkan aku yang memilih peduli padamu


Sudah sejauh manakah kau melangkah?

Sudahkah kau menembus bulan

Sudahkah kau mengitari cincin Saturnus

Sudahkah kau lelah kelilingi luasnya Jupiter


Maafkan aku yang pura-pura tak peduli

Nyatanya sangat peduli

Maafkan aku yang pura-pura tak lagi mencintai

Nyatanya sangat mencintai

Maafkan aku yang tak lelah memandangi

Hingga tak peduli bagaimana kau memandangku


Maafkan aku atas puisi yang membosankan ini

Karena mencintaimu terus kulakukan meski bosan


Maafkan aku atas puisi yang tak puitis ini

Karena cintaku padamu terlalu nyata untuk jadi romantis
This entry was posted in

Selasa, 21 Februari 2017

Menjadi Perempuan

Sumber gambar di sini

Sebenernya udah dari beberapa hari yang lalu pengen nulis tentang ini (nulisnya sih udah kelar tapi terus mengendap jadi draft) tapi karena kesibukan yang melanda (tidur, makan, nonton film) ditambah harus bed rest selama dua hari akhirnya tulisan ini baru bisa published sekarang. Twitter sempat diramaikan oleh #ShePersisted yang ternyata dilatar belakangi oleh seorang penulis dan seniman bernama Courtney Privett yang menghasilkan karya sebuah gambar yang menurut gue inspiring banget dan cukup tepat menggambarkan apa yang selama ini perempuan alami, yaitu selalu mendapatkan penilaian atas apa saja yang ada pada dirinya. Kalian yang mau liat artikel utuhnya bisa digosok di sini.

Gue sendiri sebetulnya tau tentang #ShePersisted bukan dari twitter (karena medsos masih penuuuh sama ribut-ribut politik yang yaaa sudahlah) tapi dari Huffington Post yang link-nya udah ditempelin di atas. Tapi apa yang disampein Privett ini ngena banget sih, meski jaman udah semakin terbuka dan semua orang tampaknya, secara kasat mata, memiliki hak atas pencapaian individunya namun tetap terasa betapa masyarakat kita (nggak cuma di Indonesia lho, di seluruh dunia juga sama hanya dengan kadar yang berbeda-beda) masih memarjinalkan posisi perempuan secara jelas ataupun laten.

Kalo laki-laki berusaha keras mengejar keinginannya maka ia akan disebut gigih, tapi kalo perempuan maka akan disebut ambisius. "Ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tinggi, perempuan di rumah aja!" Bukan sekali-dua-kali kan kita denger kalimat model begitu. Kalo laki-laki jadi pemimpin terus nggak kenal kompromi dia bakal disebut tegas, kalo perempuan bakal disebut arogan. Standar ganda yang berpijak pada bias gender ini diakui atau tidak masih begitu melekat di masyarakat. Dan ini jelas-jelas bukan tentang hegemoni laki-laki kok, banyak perempuan juga mengekspresikan penilaian-penilaian yang menyudutkan sesama perempuan.

“The piece isn’t anti-male at all,” Privett said. “This stuff comes from everybody; our whole society is doing it.” 

Kalo hal yang paling bikin gue sedih sih adalah ketika pertama kali baca istilah full-time mother, yaitu seorang wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Jadi kalo seorang ibu bekerja maka dia disebut part-time mother gitu? Mana ada sih pekerja part-time yang mau ngorbanin nyawa. Emang kita bisa tega gitu ya ngasih gelar-gelar nggak jelas untuk para perempuan yang udah ngorbanin jiwa dan raga demi melahirkan sebuah kehidupan baru, dan bikin dikotomi sembarangan cuma karena seorang ibu memilih bekerja di luar rumah atau nggak.

Gue pernah baca beberapa tulisan tentang keutamaan menjadi full-time mother (mereka bener-bener pake istilah ini, and I didn't get it when the writer was woman) bahwa perempuan harusnya hanya mengurusi keperluan dalam rumah karena mencari nafkah adalah tugas laki-laki. Bahkan tulisan-tulisan itu juga ngasih saran seharusnya perempuan ngerasa cukup aja sih sama pendapatan suaminya karena rejeki udah ada yang ngatur dan biar dikit yang penting berkah. Tulisan kayak gini emang terasa religius sih meski menurut gue ya menyesatkan, karena kalo emang nggak cukup ya nggak cukup aja bukan berarti kufur nikmat. Ketika penghasilan kepala keluarga nggak mencukupi kebutuhan sehari-hari karena anggota keluarga makin banyak (anaknya nambah ya, bukan istrinya yang nambah) maka solusi selain bersyukur ya cari tambahan penghasilan. Di situasi seperti inilah biasanya seorang ibu memilih untuk bekerja (atau sudah bekerja sebelumnya untuk mengantisipasi hal kayak gini).

Mungkin dalam benak masyarakat kita (entah masyarakat yang mana, yang pasti yang judgmental people itu) perempuan yang bekerja itu tipikal ratu-ratu gitu ya, yang abis gajian hilir mudik shopping, nongki-nongki sambil ketawa-ketiwi, padahal menurut gue berapa persen sih perempuan yang memang punya privilege seperti itu, punya gaji dan posisi yang tinggi di perusahaan, bukankah sebagian besar malah terjebak di dalam pabrik-pabrik yang pengap dan sama sekali nggak pernah lagi bersua dengan matahari karena pergi-gelap-pulang-gelap? Belum lagi rumah mesti disapu, anak mesti disuapin, suami mesti dimasak (dibikinin masakan gitu maksudnya), kalo disuruh milih mereka juga pastinya lebih pengen di rumah dengan uang yang cukup. Menurut gue sih gitu.

Daripada tulisan ini meluber kemana-mana dan gue malah keliatan kayak orang lagi ngomel dibanding bikin tulisan, wajarinlah ya kategorinya juga Just A talk yang gue artiin sebagai acara ngomel-ngomel (terjemahan seenak udel, ditimpuk pake Google translate) jadi nulisnya juga nggak pake kerangka-kerangkaan dan tidak mengikuti standar mutu yang ada.Nah di sini gue punya sembilan gambar yang asik buat disimak tentang gimana seharusnya perempuan bersikap kalo jadi pemimpin.



#1 Nentuin Deadline
Menggertak : Senen mesti kelar ya!
Nggak menggertak : Menurut lo kalo senen beres oke?

#2 Ngasih ide
Menggertak : Gue punya ide nih...
Nggak menggertak : Gue sih cuman kepikiran gini...

#3 Ngirim e-mail permintaan
Menggertak : Kirimin gue presentasinya pas udah beres
Nggak menggertak : Hai Joni! Boleh liat nggak presentasinya kalo udah beres? Makasih ya Joni ganteng.

#4 Seseorang nyuri ide lo
Menggertak : Iya, itukan yang tadi gue omongin
Nggak menggertak : Makasih ya udah ngulangin begitu jelas
Gue : Cegat di pengkolan (gaya premannya keluar)

#5 Denger komentar yang seksis
Menggertak : Itu nggak pantes dan gue nggak suka
Nggak menggertak : *Cengar-cengir asem*
Gue : Cegat di pengkolan (lagi)

#6 Ketika lo udah tau tentang suatu hal
Menggertak : Gue sendiri yang ngajarin lo 6 bulan yang lalu
Nggak menggertak : Gue demen deh sama lo, eh bukan! Gue demen deh kalo lo ngejelasin lagi hal itu ke gue

#Ketika lo liat ada kesalahan
Menggertak : Angka-angka ini salah
Nggak menggertak : Duh gue minta maaf nih, ini angka pada bener kagak ya? Gue nggak yakin soalnya, gue kan nggak suka angka. Gue sukanya lo.

#Bekerja sama (bareng laki-laki)
Menggertak : Ngetik normal (yang udah biasa pasti cepet lah ya)
Nggak menggertak : Ngetik pake satu jari

#Ketika lo nggak setuju
Nah klimaks sembilan gambar itu ada di sini ternyata, perempuan sih emang nggak boleh ngeritik, kalo mau ngeritik ya pake kumis aja.

Ya udah deh gitu aja tulisan ini, oh iya sembilan gambar itu didapet di sini. Caption-nya nggak usah diperkarakan ya, jarang-jarang kan dapet terjemahan bahasa Inggris kayak gitu, kalo di Google translate sih mana ada. Sekali lagi seperti tulisan Just A Talk sebelumnya, jika merasa tulisan ini bermanfaat silakan dibagikan namun jika merasa tidak bermanfaat mungkin lo belum dapet hidayah dan perlu di-ruqyah (yang nulis langsung ditimpukin pake duit).










Senin, 13 Februari 2017

Patriot

Dokumentasi Pribadi

Walaupun negara besar,
Kehidupan kami sangat kecil, 
karena kami hanya merasa aman
di gelembung masing-masing.

Identitas Buku

Judul Buku       : Patriot
Penulis Buku    : Maria Audrey Lukito
Editor               : Angelia Samori
Penerbit Buku  : PT Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia)
Tahun Terbit    : 2011
Halaman          : XII+135 halaman

Patriot merupakan sebuah autobiografi yang ditulis oleh seorang gadis berkewarganegaraan Indonesia dan berdarah Tionghoa bernama Maria Audrey Lukito, gadis genius yang telah menorehkan banyak prestasi. Audrey, nama panggilan gadis ini, telah memecahkan rekor MURI pertamanya pada usia 10 tahun, yaitu ketika ia meraih skor 573 untuk ujian TOEFL internasional yang kemudian dipecahkan kembali oleh dirinya sendiri pada usia 14 tahun dengan skor 670.

Audrey juga mampu menghafal kamus bahasa Inggris sebanyak +/- 650 halaman pada usia 11 tahun, dan menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas pada usia 13 tahun. Setelah itu Audrey dibimbing di Mary Baldwin College, Virginia, Amerika Serikat untuk mengikuti Program for the Exceptionally Gifted (Program untuk anak-anak dengan IQ di atas rata-rata sebelum ditransfer untuk melaksanakan undergraduate program di universitas-universitas prestisius di Amerika Serikat). Kemudian Audrey melanjutkan program sarjananya untuk bidang Fisika di The College of William and Mary in Virginia dan mampu menyelesaikannya dalam waktu tiga tahun saja dengan predikat Summa Cum Laude pada usia 16 tahun. Prestasinya tersebut mampu mengatarkan Audrey menjadi anggota Phi Beta Kappa (Masyarakat kehormatan untuk bidang sains).

Selain memaparkan prestasi apa saja yang telah diraih oleh Audrey selama usia akademiknya, buku ini juga menuturkan semangat Audrey yang ingin sekali membaktikan diri dan ilmu yang telah diraihnya untuk tanah airnya sendiri, Indonesia. Tentu saja cita-cita mulia gadis ini tidak serta merta mulus tanpa hambatan tetapi juga penuh rintangan yang justru didapat dari orang-orang di negerinya sendiri hingga menyebabkan Audrey harus jatuh ke dalam depresi yang berat.

Kelebihan Buku

Buku ini mengajarkan kita untuk tanpa lelah belajar meski telah memiliki kelebihan dalam hal daya pikir, Audrey bahkan merasa sedih ketika orang-orang memujinya karena ia mudah sekali dalam mempelajari banyak hal, mengapa mereka hanya memuji kelebihan yang ada pada dirinya tanpa pernah mau tahu bahwa meskipun dengan otak yang genius Audrey tetap belajar siang dan malam untuk meraih apa yang diimpikannya.

Buku ini pun menyajikan esai-esai karya Audrey, termasuk esai yang meloloskannya untuk menerima bimbingan di Mary Baldwin College, juga ringkasan tesis Audrey untuk mendapatkan gelar sarjana di bidang Fisika.

Buku ini cukup tipis sehingga tidak menjenuhkan, gaya bahasanya yang sederhana membuatnya mampu dicerna oleh semua umur.

Kekurangan Buku

Judul kurang menarik meskipun hal ini ditolong dengan desain sampul yang simpel namun pas.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga sehingga pembaca merasa buku itu tidak ditulis oleh Audrey sendiri, meskipun ada beberapa bagian bercetak miring dimana Audrey menggunakan sudut pandang orang ke satu untuk mengungkapkan pemikirannya secara langsung, namun hal ini justru terasa sebagai pengulangan apa yang telah disampaikan sebelumnya.

Gaya bahasa yang digunakan terlalu dramatis dan kurang menyampaikan secara rinci sebenarnya apa yang ingin Audrey lakukan untuk Indonesia, seperti berkarya atau bekerja di bidang apa dan bagaimana, buku ini hanya berkutat dengan 'berbakti dan memajukan Indonesia' tanpa penjelasan secara riil.





Jumat, 03 Februari 2017

Tiket Terakhir

Sumber gambar : Google

Hujan yang semula berupa tetes-tetes kecil kini bertumbuh menjadi jarum-jarum runcing yang panjang dan mulai kerap. Mobil yang kutumpangi hanya melaju perlahan-lahan, usaha mendapatkan penumpang. Sepertinya perlu waktu yang lebih lama karena orang-orang cenderung menunda untuk berpergian ketika hujan.

Kursi sebelahku masih kosong. Setidaknya aku yakin tidak seorang pun yang tahu tetesan hangat yang bergulir dari mataku pun sederas hujan di luar. Aku memalingkan wajah ke jendela di sebelah kananku, tampak sedikit kemacetan diluar namun tidak terlalu parah karena aku telah melewati bagian paling macet di sore hari saat waktu pulang kerja tiba. Beberapa orang tampak berjalan di trotoar dengan payung mereka, ada juga orang-orang yang terpaksa berteduh atau sekedar menikmati semangkuk bakso di pinggir jalan, semuanya tercipta bersama irama hujan.

Mungkin irama hujan membuatku terjerembab dalam suasana melankolis ini. Pada mulanya suasana hatiku biasa-biasa saja, namun tiba-tiba impian-impianku dan segala apa yang dicita-citakan berkelebat dalam benakku cepat sekali, berulang kali. Melihat bagaimana posisi hidupku sekarang aku merasa cepat atau lambat aku harus tersadar bahwa mimpi-mimpi itu hanya akan tenggelam seperti ditelan black hole.

Perlahan-lahan bulir-bulir hangat meluncur dari mataku tanpa bisa ditahan. Aku memalingkan wajahku pada jendela di sebelah kananku. Saat itu aku tahu bahwa aku takut sekali, kegagalan tahun lalu masih kuat menghantui. Memberikan kekhawatiran padaku bahwa kegagalan itu akan terulang lagi tahun ini.

Bara di dalam hatiku tiba-tiba membakar tekad yang ada lalu menjalari seluruh tubuhku dan secara ajaib menciptakan energi yang sangat kuat kurasakan. Aku berjanji, jika yang Maha Pemurah mengabulkan harapanku yang rasa-rasanya adalah tiket terakhir bagiku untuk menggapai hari yang lebih baik, aku takkan menyia-nyiakannya.

Akhir pekan ini aku tak berniat pergi kemana-mana, seluruhnya kugunakan untuk bersantai. Selain itu untuk mengembalikan energi yang digerogoti kelelahan rutinitas pekerjaan dan perjalanan pulang-pergi selama dua jam setiap harinya. Sebenarnya pekerjaanku mudah saja yaitu mencabuti benang dan stiker untuk menandai bagian-bagian pakaian hanya saja super cepat dan membuatku cukup kewalahan. ‘Ajaibnya’ selama delapan jam bekerja tidak satupun kursi disediakan untuk kami para pencabut benang dan stiker ini, alhasil kami harus berdiri selama bekerja.
            
Saat santai seperti ini hal sederhana yang paling kusukai untuk dilakukan adalah membaca buku atau menulis sesuatu entah cerpen atau esai—malah kadang-kadang hanya corat-coret saja, tapi baik sebuah buku ataupun sebuah pulpen dan kertas kosong bagiku sudah cukup untuk mengusir jemu.

Aku memutuskan untuk membaca sebuah buku yang baru saja kubeli kemarin saat pulang bekerja di sebuah toko buku pinggir jalan, buku yang berisi kutipan dari orang-orang terkenal dunia. Membaca kutipan-kutipan mereka dapat menjernihkan pikiran dan memberi semangat. Aku membacanya satu per satu hingga aku menemukan sebuah kutipan dari novelis klasik Amerika bernama Louisa May Alcott, “I am not afraid of storms for I am learning how to sail my ship.”

Quote itu menyentak kesadaranku seketika, ada satu hal yang selama ini hilang dari diriku. Keberanian, ya keberanian. Ketika lulus SMA tahun lalu aku hanya mengikuti Ujian Saringan Masuk salah satu sekolah tinggi ikatan dinas, alasannya sederhana sekolah itu tak memungut biaya malah katanya ada uang saku tiap bulan. Aku tak pernah berani mencoba SNMPTN karena ketiadaan biaya untuk kuliah.

Aku sadar, sebenarnya tidak ada yang mengubur impianku untuk kuliah kecuali ketakutanku sendiri.

       “Ma, tahun ini aku mau kuliah.”

       Ibuku terkejut mendengar perkataanku yang tiba-tiba ketika kubersiap-siap pergi bekerja. Beliau menjawab, “Kuliah mahal. Darimana biayanya?”

      “Aku mau daftar beasiswa, Ma. Doain ya!” ucapku seraya bersepatu. Sebelum mencapai pintu keluar aku mencium punggung tangan ibuku dahulu.
Ibuku tersenyum seraya mengelus kepalaku, “Bolehlah kalau dapat beasiswa penuh, tapi dapat darimana?”

       “Ada beasiswa pemerintah ma, kata teman sih yang sudah lulus SMA satu tahun masih boleh ikut.” Ungkapku,”daftarnya lewat sekolah.”

          "Pasti mama doakan dapat beasiswa, tapi kalau biaya sendiri mama rasa tidak sanggup.”

Aku mengangguk dan tidak menjawab apa-apa. Aku harus segera berangkat kalau tidak bisa terlambat.

Setiap dalam perjalanan dan sepulang bekerja kini aku kembali membuka pelajaran-pelajaran saat SMA, tak jarang aku bahkan belajar hingga tengah malam. Aku pikir hal ini akan sangat menguras tenagaku karena waktu sepulang bekerja yang biasanya digunakan untuk beristirahat sekarang digunakan untuk belajar.

Ternyata dugaanku tidak sepenuhnya benar, mungkin karena semangat yang meletup dan menyebar di dalam diri seperti kembang api membuatku melupakan segala rasa lelah. Jika diibaratkan jalan meraih cita-cita  adalah lautan penuh badai maka aku tidak akan takut untuk membentangkan layar kapalku sendiri, aku yakin di masa depan sana pasti aka nada lautan tenang dan pulau yang diimpikan. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah keadaan diri jika kita hanya diam saja?

Aku dan beberapa orang temanku pernah beberapa kali mengunjungi guru BK kami semasa SMA agar dibantu dalam proses pengajuan beasiswa pemerintah itu, beliau menjamin akan membantu namun setelah anak kelas XII sekarang yang juga mengajukan beasiswa tersebut semuanya telah selesai diurus. Jadi beliau sarankan kepada kami untuk sabar menungggu.

Nyaris dua minggu kemudian kami menemui kembali guru BK kami—karena memang beliaulah yang diberi mandat oleh sekolah untuk mengurus proses pengajuan beasiswa. Setelah rekomendasi dari kepala sekolah turun maka kami siap untuk melakukan registrasi online, sedangkan pemberkasan dilanjutkan setelahnya.

Desa kami minim akses internet, maka untuk melakukan registrasi online pun kami harus menggunakan fasilitas sekolah. Namun ternyata kami menghadapi satu masalah yaitu kami belum memuliki NISN yang wajib ada untuk pengajuan beasiswa ini. Jadilah esok harinya guru kami pergi ke kabupaten untuk mengurusnya.

        “Ini NISN* kalian,” ucap guru kami setelah keesokan harinya beliau mendapatkan NISN kami. “Ayo, kita coba registrasi online-nya!”

Salah satu temanku mencobanya terlebih dahulu, ia mengisi data diri pada borang yang disediakan namun ketika ia klik ‘simpan’ layar tidak menampilkan proses selanjutnya melainkan serangkaian kalimat : Maaf! Batas Terakhir Registrasi Online adalah 3 Juni 2011.
            
Tiba-tiba ada hening yang menyiksa, tak sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, yang tersisa hanyalah rasa lemas. Aku bahkan melihat tubuh guruku melorot di kursi. Hanya satu hari saja kami terlambat melakukan registrasi online.

       “Jadi sekarang kalian mau bagaimana?” pertanyaan guruku menyadarkan kami, tapi tak satupun dari kami yang mampu menjawab pertanyaan itu. “Kalau bapak sarankan lebih baik kalian coba SNMPTN regular saja, pembelian rekening di bank tutup satu jam lagi.”

Kami tak sempat pikir panjang, biarlah urusan biaya dipikir lain kali ketimbang tidak mencoba sama sekali.

           ***
Menginjak universitas ini sebagai mahasiswa semester satu dengan kemeja biru laut dan rok pantalon hitam bagiku sama saja seperti bermimpi, hanya saja menjadi kenyataan. Aku mendapatkan beasiswa dari universitas untuk satu semester sedangkan untuk biaya hidup perlu mengirit dari kiriman orangtua. Mungkin semester selanjutnya aku harus mencari beasiswa lain.

Aku meloncat turun dari Bis Damri Jatinangor-Dipati Ukur karena medapatkan perintah bagi yang menerima beasiswa dari unuversitas untuk datang ke rektorat. Setelah itu aku menuju tempat-tempat sesuai instruksi yang telah diberikan.

       “Dek, kamu diajukan oleh universitas untuk mendapatkan beasiswa pemerintah. Tolong nanti siapkan pemberkasannya ya!” ucap seorang bapak paruh baya yang ramah.

   “Lho kan sudah berakhir pak pengajuannya?” tanyaku heran. Aku sendiri gagal registrasionline waktu itu karena terlambat satu hari.

    “Universitas kita punya kelebihan kuota, jadi mengajukan kembali beberapa orang mahasiswanya,” beliau menerangkan. “Berdoa saja dek, biar lancar dan dapat.”

       “Aamiin, Pak!” ucapku sungguh-sungguh dari dalam hati. Benarlah firman-Nya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Aku tak menyangka, ‘tiket terakhir’ ini membawaku pada perjalanan yang berliku namun manis, lebih manis daripada coklat yang dijual di toko sebelah.
This entry was posted in

A Cup of Coffee

Gambarnya dari Google soalnya nggak sempet foto

Udah sekitar dua bulanan kayaknya gue jarang banget makan nasi, paling makan nasi itu kalo weekend pas lagi di rumah itu pun paling sehari sekali, sisanya gue ngenyangin perut dengan ngemil. Alesannya gue ngekos jadi males masak nasi ditambah gue lagi prioritasin waktu untuk belajar sehabis pulang kerja, jadi segala aktivitas selain belajar harus dipadetin termasuk urusan makan. Dulu gue lebih prefer masak nasi dan lauk sendiri than beli soalnya kosan gue juga nyediain dapur buat masak. Selain irit juga lebih sehat terus nggak ngebosenin.

Kebiasaan nggak makan nasi ini bikin gue males liat nasi, jadi biasanya buat sarapan gue makan buah atau oatmeal malah kadang minum susu doang udah cukup. Sebenernya yang suka bikin gue bete itu kalo pas istirahat kerja, dikarenakan gue juga tidak lagi menyempatkan waktu untuk bikin bekal makanan, akhirnya terpaksalah cari makan deket tempat kerja yang variannya itu-itu lagi, malah itu-itu-itu lagi. Segitu ngeboseninnya.

Dampak positif yang gue rasain dari ketidaksetiaan pada nasi untuk menjadikan ia makanan pokok sih berat badan nggak gampang naik meski gue menjadi super omnivore, gue bener-bener pemakan segalanya. Es krim, bakso, snack, mulai dari yang asin-asin, manis-manis, sampe yang ganteng-ganteng (Ihh….kanebo, eh kanibal).

Terus sebelah mana kopinya cobaaa? Tiga paragraf cuma bahas nasi doang?? Kenapa judulnya nggak a plate of rice aja??? (Pembaca di kepala gue mulai protes. Pembaca asli : Hah??) karena menuai banyak desakan, oke nih gue mulai masuk ke inti cerita.

Akhirnya titik terang itu mulai muncul, kantor pos deket tempat kerja gue tiba-tiba jeng...jeng...buka toko makanan, rrr...lebih tepatnya sih tempat makan, tapi bukan rumah makan juga sih (jadi gimana sih?), kalo lo frustasi ya nggak usah dibayangin gimana ceritanya lo bisa makan dan ngupi-ngupi cantik di dalam kantor pos.

Sebenernya sih tempat itu kayak mini cafe kali ya, sebut ajalah begitu, jujur aja menunya sih gue cocok, cemal-cemil bikin kenyang lah dan jelas nggak pake nasi. It is what I like so bad! Gue nggak akan nyebutin menunya satu per satu ya karena selain nggak hafal gue juga nggak dibayar buat promosi (dasar pelit!), tapi satu hal yang jelas, ada indomie macam lo makan yang ada di u*normal (ini juga disensor karena sekali lagi gue nggak dibayar buat ngiklanin).

Jadilah gue nyaris setiap hari istirahat di sana, walaupun kecil tapi tempatnya cozy enough. Percaya nggak percaya sama the law of attraction tapi inilah yang terjadi antara gue dan buku. Gue emang hobi baca buku, meski nggak hobi beli buku, dan lebih hobi pinjem buku tapi gue ngerasa pertalian dengan buku terjali cukup kuat (dari pada pertalian aku dengan dirimu...uh, udah ah jangan curhat). Di tempat yang seenak jidat gue sebut mini cafe tak terdefinisikan ini akhirnya gue bertemu lagi dengan buku, dan jatuh cinta lagi dengan mereka, karena apa pemirsaaa? Mereka banyaaak dan katanya masih banyaaaak lagi, di belakang, namun di belakang mana, gue juga kagak tau kali pokoknya empunya bilang gitu.
dddddd
Buku-buku itu menggoda gue dengan judul-judulnya yang tampan dan tubuhnya yang tebal, tebaaaaal, liat badan para buku aja udah bikin gue liar apalagi liat isinya. Jadilah gue sering     pergi ke situ buat menikmati makanan dan bercinta dengan buku-buku, menggilir mereka satu per satu, lalu...(udah ah ini kan bukan tulisan xxx sih, xxx judul film kan ya?)

Gue sih tiap beli di situ nggak pernah ngajak ngobrol duluan—lagian gue ngajak ngobrol duluan kan emang peristiwa langka dalam hidup haha—tapi yang jualannya (cowok sama cewek, entah mereka itu suami istri atau kakak beradik, gue nggak tau, nggak nanya, dan nggak kepo) kadang suka nanya-nanya macam kerja di mana, tinggal di mana...ya gitulah tipikal pertanyaan basa kadaluarsa alias basi. Tapi mereka baik sih soalnya suka nambahin keju di pisang karamelnya jadi ya gue sih seneng-seneng aja.

Nah sampe kemaren gue juga lupa gimana awalnya bisa ngomongin buku sama akang penjualnya (berarti dia cowok ya, yang cewek gue panggil abang soalnya) dan itu semua ternyata adalah koleksi bukunya, gue juga bilang salah satu alesan gue betah istirahat di situ kerena warteg sebelah nggak nyediain buku (whaaaat?!). Kita juga ngomongin jaman kuliah gitu yang ternyata dia adalah alumni UNISBA  jurusan Ilmu Komunikasi dan dia tanya gue kuliah dimana terus akhirnya jadi ngomongin kampus gue karena dia dulu katanya sering main ke sana.
d
Well, Tiba-tiba dia nanya kalo gue suka ngopi apa kagak terus gue jawab kadang-kadang, then dia nawarin buatin kopi secara cuma-cuma ke gue karena di situ juga dia jual kopi yang diolah sendiri dan dia tunjukin biji-biji kopinya gitu dalem toples. Awalnya sih gue nolak (padahal pengen) tapi dianya kayak nawar-nawarin terus jadi ya gue iyain (alesan), so terhidanglah segelas kopi robusta (seriusan segelas  bukan secangkir, tapi biar unyu aja judulnya jadi a cup bukan a glass) mixing with condensed milk tapi tawar sih dan disedian gula cair terpisah dalam pot kecil gitu.

Gue serupuuuut dan rasanya enak soalnya gratis wkwkwk. Ya udah sih gitu aja, tulisan ini sebenernya cuma mau nyeritain gue kemaren dapet ngopi gratis. Terus kenapa panjang dan meleber kemana-mana? Ya udahlah suka-suka gue, ya udah pokoknya gitu deh. sampai jumpa di tulisan berikutnya yang semoga lebih bermutu (Kalo merasa tulisan ini bermanfaat silakan disebarkan, jangan sampai berakhir di lo).

Kamis, 02 Februari 2017

Sanbenito


            Aku melongok keluar melalui jendela rumahku di sudut kota Granada. Tampak kepulan asap kelabu meliuk-liuk membelai udara. Api yang membakar tampak menyelimuti sebuah bangunan tua yang terletak beberapa blok dari rumahku.

            Haviva dan Lavy mulai menangis, mereka memelukku erat sekali. Mataku panas, aku menatap marah kepulan asap itu, seketika kemarahanku menjalari seluruh tubuh dan hinggap begitu kuat di kakiku. Aku sigap melangkah dan meraih kedua bocah yang makin histeris memelukku.

            Di kamarku ada sebuah lemari besar yang kosong cukup untuk Haviva dan Lavy. Aku membuka lemari cokelat itu, debu-debu halus berterbangan dari dalamnya.

“Kalian tunggu di sini ya!” ucapku pada kedua bocah tersebut.

“Kau mau kemana?” tanya Lavy, seorang anak lelaki berusia dua belas tahun.

“Aku ingin menyelamatkan kakak kalian,” ucapku seraya mengecup kening kedua bocah itu. “Berhentilah menangis, Sayang. Aku yakin kakak kalian akan selamat.”

Aku tidak yakin. Sungguh! Aku bahkan tidak yakin kita semua akan selamat setelah ini.

           Aku siap menutup pintu lemari cokelat itu, namun tangan kecil Haviva menggapai lenganku.

“Fatima…, hati-hati!” ia tersenyum bersamaan isak tangisnya.

“Iya, Sayang!” ucapku seraya membelai pipinya. “Jangan buka lemari ini sebelum aku membukanya ya!”
***
            Tiga minggu setelah kematian Zaid, kakak laki-lakiku, bahan pangan habis sudah. Aku kehilangan satu-satunya pencari nafkah. Kini perutku lebih sering protes minta asupan, badanku pun menjadi lemah.

            Aku tak mau mati konyol! Tak mungkin berdiam diri terus-menerus di sini. 

          Tapi risiko ditangkap menyelimuti diriku dan menjelma menjadi ketakutan yang begitu besar. Aku mencoba mencari celah dan berpikir mengenai jalan yang cukup aman dilalui. Aku mengintip keluar, kota beraktivitas seperti biasa termasuk Moriscos(1) dan Marranos(2) yang lalung lalang dengan topi kerucut mereka.

            Aku memutuskan untuk pergi ke rumah bibi, gang-gang kecil menuju rumahnya menjanjikan keamanan. Bibi adalah satu-satunya kerabatku, aku bisa memaklumi kenapa ia tidak menjengukku semenjak kematian Zaid, ancaman terlalu besar diluar sana.

            Semula tidak ada masalah, negeri yang dibentengi oleh tiga keyakinan besar ini telah mampu hidup damai dan saling berdampingan berabad-abad lamanya. Namun nilai-nilai toleransi seolah mengalami pergesaran pasca Reconquista oleh Ferdinand dan Issabela. Penguasa baru ini telah membuat peraturan anyar yang secara keras menyatakan bahwa bumi Andalusia harus terbebas dari agama-agama lain selain katolik. Orang-orang Islam dan Yahudi mulai ditangkapi.

            Aku mengendap-endap lemah seperti tikus kelaparan dengan jantung yang berdetak lebih kencang. Ketika aku berbelok, seorang pemuda berkalung salib tiba-tiba muncul dihadapanku. Kami sama-sama terkejut, aku menatap wajahnya sekilas dan mengenalinya.

“Fatima…,” tegurnya. “Sudah lama tidak melihatmu. Kau baik-baik saja?”

Aku hanya mengangguk, terlalu terkejut untuk berkata-kata. Akankah ia melaporkanku?

“Syukurlah. Aku ikut berbelasungkawa atas kematian Zaid.”

Sekali lagi aku mengangguk. Rasa terkejut itu mulai reda. Nathanael adalah tetanggaku bahkan teman bermainku saat kecil, aku kini yakin ia takkan melaporkanku. Hanya saja, akhir-akhir ini prasangka buruk lebih mudah untuk dikembangkan. Jika saudara seiman saja bisa berkhianat apalagi yang lain?

“Dengar Fatima, jalan ini aman dilalui. Orang-orang Yahudi juga memanfaatkan jalan ini. Aku tahu masa-masa ini sulit bagimu, aku tidak bisa banyak membantu. Aku hanya punya ini,” bisiknya. Ia memberiku dua keping perak.

“Terima kasih, Nathan. Tapi aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Sejak dahulu kita sudah terbiasa saling membantu, bukan? Aku harap itu tidak berubah,” ia tersenyum.

Aku membalas senyumnya. “Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikanmu.”

       Aku tak berhenti bersyukur ketika aku dapat mencapai pintu rumah bibiku. Aku mengetuknya pelan seraya mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Aku mengetuknya lagi dengan lebih keras. Namun tetap tak ada jawaban. Aku tahu seharusnya aku pulang setelah tiga kali mengetuk, tapi aku benar-benar butuh bantuan.

“Bibi, buka pintunya! Ini aku Fatima,” aku menggedornya dan pintu itu tetap bergeming. “Siapa pun di dalam buka pintunya!”

            Baiklah, nyatanya aku hanya menghabiskan energi. Aku kembali menyusuri gang-gang dan menggenggam perak pemberian Nathan dengan lebih erat. Aku tetap harus berhati-hati hanya saja lebih bertekad.

            Aku mulai memasuki jalan-jalan besar. Beberapa toko makanan yang dimiliki Muslim dan Yahudi telah tutup. Tapi di ujung jalan sana toko daging paman Ben tampaknya masih beroperasi. Walau seorang Yahudi paman Ben juga berjualan daging yang halal dimakan oleh seorang muslim. Mudah-mudahan ia tidak berubah menjadi Marranos.

            Aku bernapas lega ketika berhasil mencapai toko daging paman Ben. Aku muncul begitu saja di depan pria berkepala botak itu. Syukurlah ia tidak mengenakan Sanbenito(3), berarti ia bukan seorang Marranos. Ia dengan segera mengenaliku, dulu aku dan Zaid adalah salah satu pelanggan setianya. Mengetahui kami yatim piatu, paman Ben sering memberikan diskon kepada kami.

“Paman Ben!” seruku pelan. bibirku tersenyum lebar, tapi paman Ben tampak sedih.

“Fatima, senang bertemu kembali denganmu. Tapi aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan,” wajahnya nampak pilu. “Setelah membayar pajak yang sangat besar, aku hanya diperkenankan menjual babi.”

Lututku lemas. Bagus sekali kerjamu Ferdinand dan Isabella, kejahatan sistematik!

“Tapi aku punya ini, Paman,” aku menjulurkan perak pemberian Nathan. “Tolonglah berikan aku apa saja yang bisa dimakan, tapi jelas bukan itu!” aku menunjuk babi-babi gemuk dagangannya.

Rasa iba mengaliri wajah paman Ben, “Tapi anakku, aku tidak menjual apa-apa lagi selain ini. Tapi tunggu dulu sebentar!”

            Paman Ben melangkah masuk ke bagian dalam kedainya. Aku berdiri merapat ke dinding, mataku tajam mengawasi sekitar takut-takut ada orang yang akan menangkapku. Untunglah paman Ben tidak lama.

“Ini untukmu, Fatima.” Ucap paman Ben seraya menyerahkan sebungkus roti padaku.

Aku meraih roti paman Ben dan menyerahkan sebuah koin perak. “Terima kasih, ambil ini paman.”

“Tidak Nak, bawa kembali koinmu itu. Aku rela memberikan roti itu kepadamu.” Ucap paman Ben seraya menggerak-gerakkan telapak tangannya tanda menolak.

Aku tersenyum kepadanya, “Terima kasih Paman, kebaikanmu tak akan kulupakan. Semoga Tuhan menbalas kebaikanmu.”

“Berhati-hatilah, Nak!”

            Aku kembali mengendap dan menyelinap ke dalam gang-gang untuk kembali ke rumah dengan langkah yang lebih cepat namun tetap tak boleh ceroboh. Hujan lebat pagi ini mebuat langkahku berkecipak ketika menginjak genangan air, jika genangan cukup besar maka aku akan berjalan pelan-pelan agar airnya tak mengotori bajuku.

         Dari pantulan yang ditimbulkan genangan air aku mengintip bayangan wajahku sendiri sambil bertanya-tanya seberapa lama roti ini akan mampu mempertahankan nyawaku sebelum aku sanggup menjemput makanan baru? Ataukah maut justru lebih dahulu menjemputku?
Genap dua hari makanan terakhir masuk ke perutku, sisanya hanya bergelas-gelas air yang ampuh membuatku kenyang tapi kembung bukan main. Allah, hidupku dalam genggaman-Mu.
***
            Aku mengambil air wudu dan berniat berjaga malam, karena perut yang kosong tak pernah mau diajak tidur. Salat dan memanjatkan doa-doa adalah pilihan terbaik. Baru saja aku merapikan kerudungku dari rambut-rambut dan siap berdiri salat, tiba-tiba pintu rumahku digedor pelan tapi sangat kerap.

            Aku terperanjat, jantungku berdebar-debar cepat sekali. Apakah mereka akan menangkapku?! Gedoran itu terasa semakin keras, aku berpikir mungkin ini akhirnya.

“Fatima…” bisikan itu pelan tapi jelas sekali bagiku. Aku menimbang-nimbang siapakah gerangan di sana.

“Fatima…jika kau di dalam tolong buka pintunya! Ini aku Abigail!” ucap suara itu sekali lagi.

Abigail?! Kegembiraanku membuncah. Aku bergegas mencapai pintu dan membukakannya. Abigail dan kedua orang adiknya berdiri dihadapanku, kami berdua langsung berpelukan erat.

“Alhamdulillah!” ucapku. Sebulir hangat telah jatuh ke pipiku.

“Fatima, kau baik-baik saja?” tanya Abigail, tangan kanannya mengusap air mata.

Aku mengangguk, memandangi kedua adiknya. “Masuklah, adik-adikmu bisa kedinginan.”

“Syukurlah penglihatanku tidak salah, beberapa hari yang lalu aku melihatmu menyelinap di gang-gang. Aku mau memanggilmu tapi aku takut, akhir-akhir ini kita tidak boleh mencolok.” Ucap Abigail. Ia adalah temanku sejak di sekolah, kami berteman akrab dan merasa cocok satu sama lain karena mengalami nasib yang sama, orangtua kami telah tiada. Abigail malah tidak punya kerabat dekat, tapi Khalifah menjamin keamanan dan kesejahteraan rakyatnya, sehingga orang-orang seperti kami tak perlu khawatir.

“Aku turut berbelasungkawa atas kematian Zaid,” ucap Abigail seraya membelai punggung tanganku. Namun seketika ekspresi marah tampak begitu kentara di wajah gadis Yahudi Sefardim itu. “Pasangan laknat itu harus mendapat hukuman! Kemarin mereka menculik bayi tetanggaku dan memaksa kedua orangtuanya menjadi marranos!

Aku tertegun, seluruh kemarahanku sudah tertelan rasa lapar. Tapi hatiku sakit sekali, apa sebenarnya yang mereka lakukan pada kami semua? 

“Mereka telah melanggar puluhan butir perjanjian dengan Sultan……,” ucapku lirih. “Mereka melakukannya dibalik topeng agama, padahal hanya rakus kekuasaan saja!”

“Apa kau tahu, Fatima? Mereka menyeret orang-orang Yahudi menuju inkuisisi dan membakar perkampunganku, beberapa mulai menyerah dan memakai Sanbenito setelah Ferdinand dan Isabella mengeluarkan Dekrit Alhambra kemarin!” air mata gadis itu mulai bercucuran, aku memeluknya erat. Haviva sudah tertidur sedangkan terdengar Lavy terisak-isak di sampingku. “Itulah alasanku membangunkanmu selarut ini, Fatima. Aku rasa di sini mungkin masih cukup aman karena mereka memulai dari perkampungan-perkampungan besar.”

“Kita akan selamat Abigail, kau tak perlu khawatir!” ucapku. Nyatanya aku khawatir, apa lagi ini? “Tapi Abigail, apa itu Dekrit Alhambra?”

“Dekrit Alhambra adalah peraturan yang membuat kita hanya memiliki dua pilihan, mengenakan sanbenito atau meninggalkan Spanyol!” ucap gadis itu geram.

Aku mematung bukan karena membeku, tapi karena rasa seperti tersengat menjalar ke seluruh tubuhku. Berita ini mampu membuatku lebih lemas ketimbang makanan yang tak jua menjenguk perutku selama berhari-hari. “Benarkah begitu, Abigail?”

“Tapi kita tidak akan diam, Fatima. Kita harus melawan, beberapa sudah ada yang menysun strategi pemberontakan. Tadi sore beberapa tokoh muslim dan Yahudi di Granada sempat bertemu, aku harap mereka bisa menghasilkan sesuatu.”

            Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya, “Semoga, Abigail. Sekarang lebih baik kau tidurlah, kau pasti sudah terlalu lelah hari ini. Aku akan melanjutkan ibadatku dulu.”

Abigail tersenyum, letih dan sisa kemarahan tampak jelas di wajahnya.
***
“Tidak, Abigail! Itu terlalu berbahaya!”, nada suaraku mulai meninggi.

“Tapi dengan pergi ke Sinangog aku bukan hanya bisa beribadat tetapi juga bisa mendapatkan informasi, Fatima!” ucapnya bersikeras. “Kami orang-orang Yahudi akan berkumpul hari ini di sinagog, Fatima. Pasti ada perkembangan terbaru yang bisa didapat.”

“Tapi bagaimana jika pasukan Ferdinand-Issabela menyerang? Pikirkanlah! Tidakkah kau peduli pada adik-adikmu?”

“Dan apakah kau mau tetap diam?!” Abigail membentak. “Apakah kau mau mati di sini seperti tikus  pengecut?!”

Rasanya seperti tamparan. Aku tak menjawab apa-apa.

Tiba-tiba sepasang tangan Abigail merengkuhku, “Aku seharusnya tidak bicara begitu, Fatima. Maafkan aku, sungguh maafkan aku!”

Aku membalas rangkulannya, “Tidak apa-apa, Abigail. Kau benar, kita tidak seharusnya diam saja.”

“Kalau begitu aku boleh pergi?” senyumnya merekah. “Aku berjanji aku akan hati-hati, tolong jaga Haviva dan Lavy ya!”

“Aku saja yang pergi,” ucapku.

“Tidak, Fatima! Kau tahu, aku lebih bisa menyamar!” Abigail mengedip dan mengeluarkan Sanbenito dari dalam tasnya. “Untuk kali ini saja!”
***
Aku melongok keluar melalui jendela rumahku di sudut kota Granada. Tampak kepulan asap kelabu meliuk-liuk membelai udara. Api yang membakar tampak menyelimuti sebuah bangunan tua yang terletak beberapa blok dari rumahku.

Sinagog itu terbakar!

            Setelah menyembunyikan Haviva dan Lavy dalam lemari aku beregegas mencapai pintu, aku kembali berjingkat-jingkat menyusuri gang-gang dan sebisa mungkin tidak ketahuan bahkan oleh seekor semut sekalipun.

            Kepalaku mengintip dari balik tembok menuju jalan raya, dua bola mataku memebelalak ketika mengintip takut-takut. Pasukan Inkuisisi(4) bergerak kasar membelah jalanan, beberapa orang Yahudi diseret paksa dan meronta-ronta, penangkapan paksa, penderitaan dan kemarahan meledak ruah seperti suar api. Bulu kudukku meremang menyaksikan itu semua, tapi atu kesadaran menyentakkan sebuah sel syaraf di otakku. Abigail!

            Aku menyingkirkan rasa takutku dan meninggalkannya di ujung gang, mengendap-endap di antara bangunan dan keriuhan yang pecah membuatku lebih sulit untuk diperhatikan. Ketika Pasukan Inkuisisi itu lebih sibuk dengan kemarahan para lelaki Yahudi yang nekad melawan di jalan, aku berhasil mencapai bagian belakang sinagog. Orang-orang terlihat berhamburan dari dalamnya, berdiaspora tak keruan seperti segerombolan semut yang tersiram air. Di mana Abigail?!

         Aku nekad menerobos kumpulan itu, beberapa dari mereka lari kesana-kemari dan menabrak satu sama lain, terkepung api dan Pasukan Inkuisisi di jalan raya. Seorang gadis berwajah pucat tampak bingung entah akan lari kemana. Abigail!

            Aku stengah berlari menghampirinya dan berhasil menangkap pundaknya tepat ketika dia menoleh ke arahku.

“Fatima! Sedang apa kau di sini?!” ekspresi terkejut tampak jelas d wajahnya.

“Aku membawamu keluar dari sini!”

“Kau membahayakan dirimu sendiri!” ia membelalakkan matanya padaku. “Haviva dan Lavy?”

“Sementara ini mereka aman!” paparku. “Ayo Abigail, kita tak punya waktu banyak!”

“Tapi kita semua terkepung Fatima!”

“Lewat sini!” aku segera menarik tangannya dan berlari menuju arah kedatanganku sebelumnya.

            Bagian belakang Sinagog ini terhubung langsung dengan lorong-lorong sempit yang dapat menghindari sebagian besar jalan raya. Aku berjalan di depan sedangkan Abigail di belakang karena lorong ini hanya muat untuk satu orang. Ketika mencapai ujung lorong, kami harus menyebrangi jalan raya dan mecapai peti-peti besar di seberang yang dapat menyembunyikan gerak kami.

“Abigail kita harus menyebrang dan mencapai peti-peti itu!” ucapku seraya menunjuk peti-peti kayu di seberang jalan. “Berhati-hatilah!”

Abigail mengangguk.

            Keriuhan yang pecah kini memuntahkan lebih banyak orang, sepertinya perlawanan dan penagkapan dadakan akibat pertemuan di sinagog itu semakin besar saja. Tiba-tiba trauma dan rasa kehilangan itu menyergapku kembali, peristiwa itu baunya masih segar ketika beberapa golongan kaum muslimin memberontak dan banyak orang ditangkap termasuk…Zaid. Tenggorokanku tiba-tiba tercekat, ada kepedihan yang begitu keras menonjok dadaku.

            Kami cukup pintar dan hati-hati untuk mencapai peti-peti itu, aku segera menggenggam tangan Abigail.

“Segera sembunyi di balik peti-peti itu, Abi…,” aku belum menyelesaikan kalimatku ketika pandanganku menabrak seorang Pasukan Inkuisisi yang tanpa kusadari telah berdiri dihadapan kami.

            Senyumnya menyeringai, “Mau kemana kalian?”

Aku refleks menggenggam erat tangan Abigail dan tanpa aba-aba menariknya ke arah yang berlawanan. Dengan sisa tenaga aku memacu kaki agar membawa kami berlari sekencang-kencangnya, Abigail seperti terbanting-banting mengikuti langkah kakiku dengan tangan lurus tertarik ke depan.

“Fatima…,” teriaknya tertahan. Beberapa Pasukan Inkuisisi mengejar kami di belakang dan makin lama makin memperpendek jarak.

            Kami menikung menuju sebuah gang sempit dan mampu membuat jarak antara kami dan Pasukan Inkuisisi semakin lebar. Tapi ini sementara saja, aku harus mencari cara lain!

            Kami mulai kepayahan, langkah kami semakin menyusut dengan napas yang terengah-engah. Derap langkah mereka bahkan sudah terdengar!

“Ayo Abigail, kita tak dapat berhenti. Kita tidak bisa mundur lagi!” ucapku, bahkan terdengar putus-putus. Mataku rasanya berkunang-kunang tapi aku menangkap sebuah harapan. “Ayo Abigail, aku punya ide!”

            Beberapa meter di depan kami tampak sebuah peti kayu yang biasa dipakai sebagai tempat penyimpanan buah terletak menjorok diantara dua bagian belakang bangunan sehingga nyaris tak kelihatan, ukurannya lumayan besar dan cukup untuk seseorang masuk ke dalam sana. Seorang saja.
“Tapi ini takkan muat untuk kita berdua!” seru Abigail.

“Memang tidak akan!” ucapku dingin.

“Lalu?!”

“Kau masuklah!” ucapku. Pandanganku terus menoleh ke belakang.

“Tidak Fatima, kau bagaimana?!”

“Jangan pikirkan aku! Masuklah!”

“Tidak!”

“Mereka semakin dekat, Abigail!” aku membentak. “Kita tak punya waktu lagi!”

           Dengan satu gerakan cepat dan mengerahkan seluruh tenagaku, tanganku membuka peti itu dan mengangkat setengah mendorong tubuh Abigail dan menjebloskannya ke dalam peti. Ia meronta dan memukuli pundakku.

“Fatima! Tidak!” ucapnya, tapi aku segera menutup peti itu.

“Kau masih perlu hidup Abigail, adik-adikmu membutuhkanmu!”

            Aku berlari mendekati arah datangnya Pasukan Inkuisisi dan menikung menuju gang yang semakin menajuhi peti dimana Abigail kutinggalkan. Mendengar langkah kaki yang cepat, Pasukan Inkuisisi itu mulai mengejar ke arahku semakin dekat. Kini ketika aku menoleh ke belakang aku bisa melihat kelebat bayangan mereka.

            Aku tak bisa terus berlari lagi. Jarakku dan Pasukan Inkuisisi hanya beberapa langkah saja sebelum kurasakan tangan-tangan kekar nan kasar itu menarik tubuhku.

Jika Ferdinand dan Isabella hanya memberikan dua pilihan, maka aku hanya akan mengambil pilihan yang diberikan Tuhanku, mati syahid.
***


Keberagaman (sesungguhnya) adalah sesuatu yang indah.

#UdahGituAja
---------------------------------------------------------------------------------------
Keterangan :

(1) Moriscos : seorang muslim yang memilih murtad, ia akan mengenakan Sanbenito.

(2) Marranos : sama seperti Moriscos, hanya saja seorang Yahudi.


(3) Sanbenito : pakaian yang digunakan oleh muslim dan yahudi yang memilih meninggalkan agamanya daripada harus meninggalkan Spanyol pada masa kekuasaan Ratu Issabela dan Raja Ferdinand dari Aragon. Bentuknya berupa jubah dan topi kerucut.

                                                                                                                                          (4) Pasukan Inkuisisi : Pasukan bentukan Issabela-Ferdinand untuk menangkap dan  menghukum orang-orang yang menentang doktrin mereka.


This entry was posted in