Sabtu, 08 April 2017

Penetas Peradaban itu Bernama "Sarang Buku"

Gambar 1. Logo Sarang Buku ciwidey

Selama dengan buku kalian boleh memenjarakanku dimana saja, karena dengan buku, aku bebas.
(Mohammad Hatta 1902-1980)

Banyak dari generasi muda di pedesaan memiliki tubuh-tubuh yang merdeka dengan pemikiran yang nyaris terpenjara. Minimnya ruang-ruang diskusi dan terbatasnya penyediaan buku-buku bahkan pada kawasan pendidikan seperti sekolah menjadi faktor penentu bagi remaja pedesaan untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang kurang terbuka terutama terhadap dunia luar. Keterbatasan ini pada akhirnya memicu rendahnya minat generasi muda usia sekolah terhadap dunia literasi. Membaca dan menulis bukanlah rutinitas yang dilakukan oleh kebanyakan generasi muda pedesaan di luar tugas sekolah, minat terhadap kegiatan literasi seolah menjadi asing. Ironi yang terjadi pada perkembangan generasi muda sebagai iron stock negeri ini yang seharusnya sarat akan rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan dan keterbukaan pemikiran.

Ketika semua informasi mengalami digitalisasi, keberadaan buku justru semakin teralienasi. Lompatan teknologi yang digapai internet mampu membuat siapa pun mengakses semua informasi nyaris tanpa batas. Mewabahnya tren media sosial beberapa tahun ini menegaskan dunia saat ini tak berpagar dengan masyarakat yang saling terhubung satu sama lain, sebuah pesan teks dapat terkirim dari belahan dunia satu ke belahan dunia lainnya dalam hitungan detik dengan biaya yang sangat terjangkau. Media sosial akhirnya menjadi candu yang menyerang segala usia tak terkecuali generasi muda.


Hal tersebut tentu saja tak sepenuhnya merupakan berita baik bagi keberlanjutan peradaban suatu bangsa. Mengutip perkataan Milan Kundera seorang penulis dari Republik Ceko, “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah." 

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 menunjukkan sebesar 85,9 persen masyarakat Indonesia memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3 persen) dan membaca koran (23,5 persen). Hasil ini diperkuat oleh data statistik United Nations Educational, Scientific, and Cultural education (UNESCO) yang dilansir tahun 2012. Data tersebut menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Duri ini semakin tajam ketika melihat Taufiq Ismail menyatakan bahwa rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku (Kemdikbud 2016). Studi yang dilakukan oleh PISA (Programme Internationale for Student Assesment) pada tahun 2012 yang dipublikasikan pada tahun 2014 menyatakan bahwa Indonesia meraih peringkat ke-64 dari 65 negara yang diteliti dalam hal kecakapan sains, matematika, dan membaca yang dilakukan pada remaja usia 15 tahun (PISA 2014). Hal ini menunjukkan ada korelasi yang sangat jelas antara tingkat minat baca masyarakat dengan majunya suatu negara.

Berakar dari keresahan ini kami mencoba memfasilitasi diri untuk membuka ruang diskusi dengan saling berbagi pemikiran di antara kaum muda dengan mendirikan sebuah komunitas bernama "Kawah Sastra Ciwidey (KSC)". Awalnya KSC hanya mengadakan pertemuan-pertemuan via online, memanfaatkan media sosial untuk saling bertukar informasi mengenai buku, kesusasteraan, dan sebagai media pembelajaran untuk menulis baik fiksi maupun non-fiksi. Hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan kopi darat agar kedepannya KSC juga dapat melalukan pertemuan di dunia nyata untuk mewujudkan proses belajar bersama yang lebih optimal.

Kawah Sastra Ciwidey sebagai Penggagas Sarang Buku
Gambar 2. Logo Kawah Sastra Ciwidey

Semenjak resmi didirikan pada tanggal 1 Juni 2014 KSC sudah bercita-cita untuk membangun sebuah perpustakaan untuk melepas dahaga atas minimnya akses terhadap buku-buku di desa kami. Kegiatan literasi tentu saja tidak hanya terbatas pada menikmati pemikiran orang lain dalam buku bacaan tetapi juga menuangkan isi kepala pada sebuah tulisan. Menyadari hal ini kami mulai untuk membuat karya kami sendiri yang nantinya dikoreksi bersama oleh anggota lainnya.

Kami mulai mengumpulkan buku-buku pribadi untuk mulai mendirikan “Sarang Buku” juga membuat rak untuk memajangnya, setidaknya saat itu kami telah memiliki dua buah rak berisi buku. Kami memiliki visi menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya dalam masyarakat, hal ini tentu saja mampu dicapai jika masyarakat memiliki kedekatan dengan buku. Maka “Sarang Buku” tidak hanya menjadi sekadar perpustakaan tetapi bertransformasi menjadi tempat belajar, berkarya, dan mengembangkan bakat.

Melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh KSC dengan mengadakan "Lomba Baca Puisi Menolak Korupsi" pada tahun 2014 yang dihadiri banyak sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia, kami yang bermarkas di “Sarang Buku” mendirikan EPiC (English Plays in Ciwidey) pada tahun 2015. Kami sadar bahwa penguasaan Bahasa Inggris yang lemah di pedesaan juga merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda terhadap kemajuan zaman. Kegiatan belajar bahasa ini pun akhirnya meluas dengan mempelajari Bahasa Korea dan Arab meski intensitasnya tidak sebanyak belajar Bahasa Inggris.


Gambar 3. Anggota Pertama EPiC
Gambar 4. Peresmian EPiC ditandai dengan Awug (Makanan tradisional Sunda)

“Sarang Buku” mulai menarik tidak hanya pembaca yang berkunjung tetapi juga para donator buku dari berbagai kalangan, baik pribadi maupun organisasi. Akhir tahun 2015 merupakan momen yang membahagiakan bagi kami karena “Sarang Buku” mendapatkan kado akhir tahun dari Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) sebanyak 200 judul buku anak-anak. Hal ini mencetuskan ide baru untuk membawa buku langsung ke tengah-tengah masyarakat dengan mengadakan kegiatan bookpacker, yaitu menggelar buku di taman kota setiap hari minggu pagi.
Gambar 5. Penyerahan Kado Akhir Tahun Penerbit BIP
Gambar 6. Kegiatan Bookpacker

Selain kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas, KSC bersama “Sarang Buku” juga sukses mengadakan acara-acara lain yang mendorong generasi muda di desa kami untuk turut aktif dalam berbagai kegiatan positif, yaitu :
-Mengunjungi Rumah Dunia Gol A. Gong untuk belajar cara mengelola perpustakaan dan kegiatan di sekitarnya.
Gambar 7. Mengunjungi Rumah Dunia
-Bedah Novel “Maneken” karya SJ Munkian
Gambar 8. Bedah Novel "Maneken"
-Kompetisi Film Pendek dalam Festival Film Surabaya
Gambar 9. Film Pendek "Skenario Remang-Remang"

-Festival Bahasa 2016
Kami menggelar lomba menulis dan membaca puisi, lomba book review dalam Bahasa Inggris, dan lomba menyanyi.
Gambar 10. Panitia dan Peserta Festival Bahasa 2016

-Lomba Baca Puisi untuk Pelajar SMP di Ciwidey, Pasirjambu, dan Rancabali tahun 2016
Gambar 11. Pemenang  dan Juri Lomba Baca Puisi Tingkat SMP di Ciwidey, Pasirjambu, dan Rancabali

-Pengundian kupon baca setiap bulan bagi pelajar SD-SMA yang membaca di Sarang Buku minimal 30 menit. Peserta akan mendapatkan berbagai macam hadiah berupa buku bacaan dan alat tulis.
Gambar 12. Pemenang Kupon Undian Baca
Gambar 13. Anak-anak Membaca Puisi pada Acara Kupon Undian Baca

Perjuangan yang kami tempuh tentu saja masih panjang, kontribusi kami dalam KSC dan "Sarang Buku" pun masih hanya dapat dirasakan oleh daerah kami, Ciwidey dan sekitarnya di Jawa Barat. Kami berharap kedepannya manfaat yang ditebarkan bisa meluas ke daerah lainnya, juga menjadi ladang tumbuhnya anak muda berjiwa inspirator yang mau melakukan langkah serupa bahkan lebih baik lagi, di wilayah kami maupun di wilayah-wilayah lainnya. Semoga kita semua selaku generasi muda dan masyarakat Indonesia mampu menetaskan peradaban yang lebih baik untuk bangsa kita tercinta kelak.

Blog Kawah Sastra Ciwidey : http://kawahsastra.blogspot.co.id
Facebook Kawah Sastra Ciwidey : Kawah Sastra Ciwidey
Facebook Sarang Buku Ciwidey : Sarang Buku Ciwidey
Instagram Kawah Sastra Ciwidey : Kawah Sastra Ciwidey
Twitter Kawah Sastra Ciwidey : Kawah Sastra Ciwidey

DAFTAR PUSTAKA

Kemdikbud. 2016. http://www.paudni.kemdikbud.go.id/berita/8459.html. Diakses pada tanggal  6 April 2017.

PISA. 2014. PISA 2012 Results in Focus, What 15-Year-olds know and what they can do with what they know. OECD.

Tulisan ini dibuat untuk Lomba Blogger ULF 2017 Pustaka Unsyiah