![]() |
| Gambar 1. Logo Sarang Buku ciwidey |
Selama dengan buku kalian boleh memenjarakanku dimana
saja, karena dengan buku, aku bebas.
(Mohammad Hatta 1902-1980)
Banyak dari generasi muda di pedesaan
memiliki tubuh-tubuh yang merdeka dengan pemikiran yang nyaris terpenjara.
Minimnya ruang-ruang diskusi dan terbatasnya penyediaan buku-buku bahkan pada kawasan pendidikan seperti sekolah menjadi faktor penentu bagi remaja
pedesaan untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang kurang terbuka terutama
terhadap dunia luar. Keterbatasan ini pada akhirnya memicu rendahnya minat
generasi muda usia sekolah terhadap dunia literasi. Membaca dan menulis bukanlah
rutinitas yang dilakukan oleh kebanyakan generasi muda pedesaan di luar tugas
sekolah, minat terhadap kegiatan literasi seolah menjadi asing. Ironi yang
terjadi pada perkembangan generasi muda sebagai iron stock negeri ini yang seharusnya sarat akan rasa ingin tahu
terhadap ilmu pengetahuan dan keterbukaan pemikiran.
Ketika
semua informasi mengalami digitalisasi, keberadaan buku justru semakin
teralienasi. Lompatan teknologi yang digapai internet mampu membuat siapa pun
mengakses semua informasi nyaris tanpa batas. Mewabahnya tren media sosial
beberapa tahun ini menegaskan dunia saat ini tak berpagar dengan masyarakat
yang saling terhubung satu sama lain, sebuah pesan teks dapat terkirim dari
belahan dunia satu ke belahan dunia lainnya dalam hitungan detik dengan biaya
yang sangat terjangkau. Media sosial akhirnya menjadi candu yang menyerang
segala usia tak terkecuali generasi muda.
Hal tersebut tentu saja tak sepenuhnya merupakan berita
baik bagi keberlanjutan peradaban suatu bangsa. Mengutip perkataan Milan
Kundera seorang penulis dari Republik Ceko,
“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya;
maka pastilah bangsa itu akan musnah."
Badan
Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 menunjukkan sebesar 85,9 persen masyarakat
Indonesia memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3 persen)
dan membaca koran (23,5 persen). Hasil ini diperkuat oleh data statistik United Nations Educational, Scientific, and Cultural education (UNESCO) yang dilansir tahun 2012. Data tersebut menyebutkan, indeks minat baca di
Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang
yang memiliki minat baca. Duri ini semakin tajam ketika melihat Taufiq Ismail
menyatakan bahwa rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di
Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6
buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku (Kemdikbud 2016). Studi yang
dilakukan oleh PISA (Programme
Internationale for Student Assesment) pada tahun 2012 yang dipublikasikan
pada tahun 2014 menyatakan bahwa Indonesia meraih peringkat ke-64 dari 65
negara yang diteliti dalam hal kecakapan sains, matematika, dan membaca yang
dilakukan pada remaja usia 15 tahun (PISA 2014). Hal ini menunjukkan ada
korelasi yang sangat jelas antara tingkat minat baca masyarakat dengan majunya
suatu negara.
Berakar dari keresahan ini kami mencoba memfasilitasi diri untuk membuka ruang diskusi dengan saling berbagi pemikiran di antara kaum muda dengan mendirikan sebuah komunitas bernama "Kawah Sastra Ciwidey (KSC)". Awalnya KSC hanya mengadakan pertemuan-pertemuan via online, memanfaatkan media sosial untuk saling bertukar informasi mengenai buku, kesusasteraan, dan sebagai media pembelajaran untuk menulis baik fiksi maupun non-fiksi. Hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan kopi darat agar kedepannya KSC juga dapat melalukan pertemuan di dunia nyata untuk mewujudkan proses belajar bersama yang lebih optimal.
Kawah Sastra
Ciwidey sebagai Penggagas Sarang Buku
![]() |
| Gambar 3. Anggota Pertama EPiC |
![]() |
| Gambar 5. Penyerahan Kado Akhir Tahun Penerbit BIP |
-Mengunjungi Rumah Dunia Gol A. Gong
untuk belajar cara mengelola perpustakaan dan kegiatan di sekitarnya.
![]() |
| Gambar 7. Mengunjungi Rumah Dunia |
-Bedah Novel “Maneken” karya SJ Munkian
-Kompetisi Film Pendek dalam Festival
Film Surabaya
-Festival Bahasa 2016
Kami menggelar lomba menulis dan membaca
puisi, lomba book review dalam Bahasa Inggris, dan lomba menyanyi.
-Lomba Baca Puisi untuk Pelajar SMP di Ciwidey, Pasirjambu, dan Rancabali tahun 2016
![]() |
| Gambar 11. Pemenang dan Juri Lomba Baca Puisi Tingkat SMP di Ciwidey, Pasirjambu, dan Rancabali |
![]() |
| Gambar 12. Pemenang Kupon Undian Baca |
![]() |
| Gambar 13. Anak-anak Membaca Puisi pada Acara Kupon Undian Baca
Perjuangan yang kami tempuh tentu saja
masih panjang, kontribusi kami dalam KSC dan "Sarang Buku" pun masih hanya dapat
dirasakan oleh daerah kami, Ciwidey dan sekitarnya di Jawa Barat. Kami berharap
kedepannya manfaat yang ditebarkan bisa meluas ke daerah lainnya, juga menjadi ladang
tumbuhnya anak muda berjiwa inspirator yang mau melakukan langkah serupa bahkan
lebih baik lagi, di wilayah kami maupun di wilayah-wilayah lainnya. Semoga kita
semua selaku generasi muda dan masyarakat Indonesia mampu menetaskan peradaban
yang lebih baik untuk bangsa kita tercinta kelak.
Blog Kawah Sastra Ciwidey : http://kawahsastra.blogspot.co.id
Facebook Kawah Sastra Ciwidey : Kawah Sastra Ciwidey
Facebook Sarang Buku Ciwidey : Sarang Buku Ciwidey
Instagram Kawah Sastra Ciwidey : Kawah Sastra Ciwidey
Twitter Kawah Sastra Ciwidey : Kawah Sastra Ciwidey
|
DAFTAR PUSTAKA
Kemdikbud. 2016.
http://www.paudni.kemdikbud.go.id/berita/8459.html. Diakses pada
tanggal 6 April 2017.
PISA.
2014. PISA 2012 Results in Focus, What
15-Year-olds know and what they can do with what they know. OECD.
Tulisan ini dibuat untuk Lomba Blogger ULF 2017 Pustaka Unsyiah
Tulisan ini dibuat untuk Lomba Blogger ULF 2017 Pustaka Unsyiah











