Selasa, 18 Juni 2019

Ketakutan: Hal-Hal yang Tak Kunjung Selesai

Sumber gambar: Google.com

Akhir-akhir ini saya sering mengalami mimpi yang mirip, saya tahu sih kenapa. Mimpi seperti ini juga kerap muncul ketika saya mengalami masalah psikologis serupa, cuma kali ini rasanya lebih parah aja.
            Tiap malam punya alurnya sendiri. Saya bagaikan aktris yang berganti-ganti peran. Entah saya menjadi siswi SMA yang terlambat masuk sekolah, mahasiswi yang lupa mengumpulkan tugas, hingga staf kantoran yang telat mengirim laporan, tokoh yang saya perankan selalu cemas karena terlambat.
            Saya akan sering mimpi terlambat ketika diri saya merasa ‘ketinggalan’. Tidak melulu tentang persaingan, saya sebenarnya lebih sering berpacu dengan diri sendiri daripada dengan orang lain. Saya mengamati polanya, setidaknya ada jawaban yang mendekati kebenaran, saya merasa banyak hal tak kunjung selesai. Setidaknya, begitu menurut saya.
            Saya sudah berbulan-bulan tidak pergi ke kantor untuk bekerja (saya pernah ke kantor kelurahan, tapi tentu saja tidak untuk bekerja. Maka ‘pergi ke kantor’ tanpa ‘untuk bekerja’ saya pikir bisa menimbulkan beragam tafsir.), dan bagi saya sulit untuk mengatur waktu ketika tidak harus mandi dan pergi pagi-pagi. Saya tahu, jadwal saya mulai berantakan ketika saya berhenti bekerja secara formal.
            Saya rupanya tipikial orang yang semakin sibuk bisa semakin produktif, dan justru semakin luang akan semakin malas. Eh, apa kita semua begitu? Hari libur memang indah, tapi tidak jika setiap hari.
Saya memang mengisi waktu menganggur dengan menjadi freelancer dan pengajar les. Selain itu, untuk meraih pencapaian besar tahun ini, mendapatkan beasiswa. Tapi itu semua jauh dari kata sibuk. Saya masih punya waktu melimpah untuk sekadar mendengarkan musik, menonton drama Korea, dan terutama scrolling media sosial (yang tentu saja minim guna itu).
Saya tak seburuk itu sih dalam manajemen waktu, saya juga banyak membaca buku dan jurnal sebagai bekal kuliah nanti. Parahnya, saya menyelesaikan bacaan-bacaan itu amat lambat. Di sinilah saya mulai merasa ‘ketinggalan’, sekaligus payah.
Tentu saja saya merasa jemu. Saya mulai tertarik dengan buku-buku lain yang tidak ada hubungannya dengan materi kuliah, buku-buku yang daftarnya segera panjang pada sticky note berwarna merah jambu di laptop saya.
Pikiran saya mulai loncat-loncat. Ketika membaca materi kuliah, saya tergoda membaca buku lainnya. Saat membaca buku yang menarik, saya berpikir ada lebih banyak hal menarik dalam materi kuliah. Ujungnya, saya jarang dipuaskan oleh keduanya. Bukan karena bacaan-bacaan itu membosankan, namun karena otak saya yang tak mau diam. Apa bisa dibilang, fokus saya terganggu?
Pilihan termudah, sekaligus terburuk, adalah beralih dari keduanya untuk membaca tulisan-tulisan tak jelas di media sosial. Ribut-ribut politik, nikah dini, poligami, foto-foto kucing lucu, konspirasi hingga Keanu Reeves sering menyedot perhatian saya tanpa disadari. Hasil dari semua itu, membuat saya ingin menulis. Itulah masalah berikutnya.
Saya sadar sudah lama tidak menulis, Ya menulis sih, tapi dalam rangka bekerja, bukan suka-suka. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali menyuarakan pikiran dan menumpahkan isi hati dalam sebuah tulisan. Yang saya ingat, cerpen terakhir yang saya buat, gagal selesai.
Saya punya banyak ide menulis, namun ketika jari-jari saya menyentuh keyboard, saya takut tulisan saya tidak akan selesai. Saya takut kehabisan ide untuk menamatkan tulisan, takut tulisan saya tidak layak baca, bahkan takut tidak bisa mengalirkan kata-kata ke dalam tulisan. Kenapa sampai begitu? Sebenarnya, saya tidak tahu.
Satu hal yang saya tahu, saya merasa buruk. Merasa bodoh, tak berbakat. Serius deh. Saya jadi malas memulai kuliah, yang belum dimulai itu. Saya takut otak saya tidak akan kuat, saya lagi-lagi merasa ‘ketinggalan’.
Buku-buku yang tak kunjung beres dibaca, materi kuliah yang tak cepat dipahami, tulisan-tulisan yang tak juga mewujud, membuat saya merasa tak bisa menyelesaikan apapun. Satu-satunya yang membuat saya merasa agak berguna adalah mampu mengedit naskah novel hingga rampung. Tapi itu juga bukan suatu pencapaian sih, soalnya draft itu masih anteng dalam folder laptop.
Lucunya, saya jadi merasa buruk karena telah merasa buruk karena buruk dalam menyelesaikan banyak hal. Persis seperti yang pernah diutarakan Mark Manson dalam buku pertamanya “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat”. Alih-alih menyelesaikan satu per satu, saya justru lebih banyak menunda akibat apa yang saya sebut sendiri sebagai ‘kelelahan mental’. Saya banyak berpikir (banyak pikiran?), tapi aktivitas saya gak menuju ke mana-mana.
Sekarang saya akan mulai mencoba, tapi gak berharap berhasil, saya gak mau lagi bawa beban tak kasat mata dari awal berupa pengharapan-pengharapan. Saya hanya ingin coba, itu saja. Saya akan membaca ketika saya ingin baca, dan saya akan bodo amat apakah selesai atau tidak. Saya ingin belajar, sepanjang saya menikmatinya dan tertantang, bukan belajar hingga stres.
Saya akan menulis, ketika saya ingin menulis. Persetan, jika saya tidak bisa menulisnya sampai habis! Eh, tulisan ini sudah selesai kan?